Absurditas dan Nihilisme di Era Pasca-agama: Refleksi atas Kebahagiaan

Seruan ‘suci’ untuk menggali makna hidup adalah salah satu topik utama dalam pergulatan filsafat zaman klasik, yang meskipun agak kurang diperhatikan hari ini, tapi dirasa masih relevan untuk diperbincangkan.

Sayangnya, alih-alih menemukan makna hidup, pergulatan filsafat dari masa ke masa malah sering hanya terhenti pada perdebatan ontologis. Tentu tidak hanya berbelit-belit tetapi juga tak pernah rampung, karena pada dasarnya masing-masing varian—misalnya materialisme dan idealisme—tak pernah pada titik pijak yang bisa dikompromikan.

Sampailah kini penggalian ‘makna hidup’ terhenti pada apa yang umumnya disebut oleh kalangan eksistensial sebagai Nihilisme dan Absurdisme.

Apakah maksud dari dua terma tersebut? Justru pertanyaan ini adalah hal yang amat sukar untuk dijelaskan—bahkan tabu untuk dipertanyakan—bagi para penganutnya. Sebab, paham tersebut setidaknya merupakan turunan dari trend filsafat post-modernisme, yang tidak hanya menyangsikan makna (kebenaran) tapi pula skeptis “apakah ‘benar’ untuk mempertanyakan kebenaran?”

Baca juga: Kegilaan dan Hematologi Pemuda

Bagi post-modernisme, khusunya pengagum filsafat dekonstruksi, adalah mustahil untuk menemukan makna, demikian pun dengan kebenaran. Sehingga, klaim atas kebenaran hanya didasarkan pada ‘kepercayaan’ subyektif yang individualistis. Sekalipun misalnya ditemui konsesus makna akan bergesekan dengan konsensus lain.

Jadi, penjelasan macam apa yang mungkin, secara minimalis, sedikit mampu menggambarkan Nihilisme dan absurditas? Yakni suatu keadaan dimana pandangan hidup hanya berisikan kekosongan dan ke-embuh-an yang menyiksa sekaligus sulit untuk dijelaskan. Keduanya merupakan sebuah perasaan mendalam dan psikologikal—meskipun mulanya merupakan sebuah isu filosofis.

Kenyataan hidup yang hanya dipenuhi oleh tekanan dan pukulan, terkadang menjatuhkan seseorang ke dalam jurang gelap tak berdasar. Atau, kekecewaan hidup penuh masalah yang diciptakan oleh kapitalisme dan pejabat korup. Bagi beberapa orang hal itu cukup untuk menempatkannya pada kejatuhan mental absurditas dan nihilitas.

Mungkin sebagian besar pakar menganggap bahwa hal tersebut hanyalah persoalan stres dan depresi berkepanjangan. Lantas bagaimana dengan fakta yang menunjukan prahara tersebut telah menjadi fenomena yang umum dan tidak hanya partikular?

Terlalu banyak data yang bisa disuguhkan untuk menjelaskan, bahwa manusia pada era ini ternyata bukan mati disebabkan oleh gizi buruk, wabah atau perang. Malahan sebagian besar—jika bukan yang terbesar—manusia zaman ini mati akibat bunuh diri! Setidaknya tiap tahun sejuta orang mati bunuh diri. Tentu saja, bunuh diri ini akibat stress dan depresi, bukan karena sikap kesatria ala prajurit abad pertengahan ataupun cara mati yang terinspirasi dari kisah cinta Romeo dan Juliet.

Tapi bukankah pada sepanjang sejarah manusia, keterpurukan mental selalu menjadi pernak-perniknya? Benar, hanya saja hidup yang makin memiliki rantai produksi yang panjang, persaingan yang ketat dan hukum besi ekonomi, membuat ia berbeda dari masa lalu.

Penulis tidak hendak membahas tentang ketimpangan itu— meskipun turut menjadi penyebab. Ketiadaan otoritas kebenaran sebagai sandaran hidup, misalnya tuhan, agama, norma dan lainya, menjadikan kesulitan hidup bertranformasi menjadi monster yang bersarang dalam diri manusia modern.

Agama, kepercayaan atau apapun itu, dalam hal ini tidaklah dipersalahkan. Hanya saja, klaim kebenaran yang dimiliki oleh otoritas tersebut berangsur-angsur terkikis oleh serangan brutal agama baru, sebut saja ideologi kebebasan dan kepentingan ekonomi.

Kehilangan otoritas menjadikan seseorang dalam keadaan tanpa harap, pada sebuah entitas agung super power yang paling tidak, mampu menenangkan, sembari mengisi ulang energi bekal menghadapi hidup yang keras dan absurd.
**
Jika manusia abad ini berkesempatan untuk kembali ke masyarakat tribal Yunani kuno untuk menemui Socrates. Salah satu dari mereka—mungkin anda—akan bertanya kepadanya, “Apakah benar hidup butuh makna? Bukankah justru dimasa depan kau lah yang turut membentuk makna itu dan memaksa bahwa hidup butuh makna, apakah lantas artinya kita sendirilah yang memberikan makna. Jika memang pada diri sendiri, mengapa kita harus mencari itu pada kehidupan?”

Cukup jelas dan kontras perbedaan di lingkungan hidup masyakat era ini dibandingkan dengan para filsuf klasik yang hidup dengan penuh previledge. Contoh saja, kepemilikan budak untuk memenuhi kebutuhan harian dan istri serta anak yang cukup dihidupi hanya dengan kemampuan beretorika.

Baca juga: Edward Said: Orientalisme dan Sebelumnya

Beda halnya sekarang, anda harus menempuh rantai hidup yang panjang dan pendidikan yang harus ditempuh selama bertahun-tahun, dibandingkan dimasa lalu yang cukup hidup dengan bertani dan menghabiskan waktu luang untuk kreasi dan rekreasi.

Kebutuhan primer hari ini bukan lagi sepiring nasi, tapi juga sepiring sepatu sneakers terbaru edisi terbatas, ponsel cerdas paling mutakhir dan stok foto untuk dipamerkan di media pertemanan online. Anda yakin betul bahwa itu membunuh jiwa Anda!

Dimanakah makna hidup itu? Apakah hanya upaya terus menerus menciptakan kenikmatan dengan terus mengejar biokimia hedonistik, yang hadir sambil lalu, bergantian dengan kesengsaraan? Pada akhirnya makna hidup hanya pencarian kebahagiaan dengan menumbalkan lebih banyak kesengsaraan untuk dapat membelinya.

Sekalipun anda mengatakan bahwa hidup bukan hanya tentang mencari kebahagiaan dan agama memberikan hal lain. Mungkin ada hal yang disangsikan bahwa aktivitas agama memberikan ketenangan, bukankah itu kenikmatan. Kenikmatan yang kontinyu artinya adalah kebahagiaan.

Seseorang dengan kadar keimanan cukup berpotensi mengalami pengalaman kenikmatan yang berasal dari reaksi biokimiawi di dalam otak yang terjadi karena melakukan ritual ibadah. Berbeda dengan kalangan yang tidak memiliki kadar keimanan dan disiplin ibadah yang cukup, mereka paling tidak harus membeli obat-obatan adiktif untuk mendapatkan sensasi itu.

Pada dasarnya manusia selalu membutuhkan adiksi, entah dalam bentuk apapun dan manapun muasalnya. Manusia yang kehilangan candu, atau mengalami keterbatasan dalam aksesnya, akan terjangkiti absurditas dan Nihilisme. Sebab, kondisi mental tanpa kebahagiaan artinya adalah kesengsaraan. Kehilangan akses atasnya artinya adalah jatuh dalam jurang yang tak berdasar.

Ironisnya manusia hari ini berada pada keadaan dimana tren keimanan atau keagamaan ada pada titik nadir, di sisi lain penggunaan zat adiktif adalah kriminalitas. Sedangkan pengejaran kenikmatan biokimiawi secara konvensional—mengejar keinginan: membeli iPhone X, masuk dalam kelas sosial tertentu—dapat dikatakan tidak cukup adil dalam mendapatkannya. Inilah era pasca-agama!

Di dunia dimana kebahagiaan adalah komoditas yang serba mahal ini, banyak orang berusaha mencari jalan keluar untuk itu, dengan secara naif tak ingin menoleh pada agama. Berbekal gimmick rasionalisme yang menolak solusi anti bunuh diri karena tuhan melarangnya, para pemikir berupaya berkreasi menemukan obat anti bunuh diri.

Banyak alternatif yang telah ditemukan, umumnya dimulai dengan analisis konseptual mengenai bunuh diri sendiri. Misalnya Arthur Schopenhauer yang meyakini bahwa bunuh diri terjadi akibat tak tercapainya kebahagiaan, kebahagiaan lahir dari kehendak (keinginan), maka yang harus dikompromikan adalah kehendak sendiri dan legowo terhadap hasil. Immanuel Kant, filsuf idealis kenamaan asal Jerman, lebih menekankan, bahwa perilaku bunuh diri adalah bentuk kepengecutan diri, sebab tak mampu mempertanggungjawabkan otonomi dan kebebasan.

Baca juga: Karena Hidup Adalah Perjalanan

Kali lain, Albert Camus, seorang novelis asal Prancis yang menolak disebut filsuf eksistensialis, menuliskan sebuah kisah epik Mitos Sisyphus yang merupakan adopsi dari sebuah roman Yunani Kuno. Singkat cerita, Zeus yang murka menghukum Sisyphus di Dunia Bawah. Ia diwajibkan mendorong sebuah batu besar menuju puncak gunung. Sesaat sampai di puncak, batu tersebut menggelinding, kembali ke bawah. Begitulah seterusnya, ia harus kembali mendorongnya dari bawah sampai ke puncak gunung, kembali menggelinding, mendorong lagi, dan menggelinding lagi.

Hal tersebut berlangsung bukan satu dua kali, bukan pula sejuta kali, tapi tak terbatas!

Sisyphus hidup dalam penderitaan yang tak berujung, tapi ia tak memilih untuk mati. Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh Albert Camus. Sekalipun hidup hanya berisi kepedihan siksa dan gelapnya jurang tak berujung, mau tak mau harus tetap dijalani.
**
Bunuh diri sebagai alternatif mengakhiri absurditas memanglah cukup dilematis. Pertama, manusia secara alamiah takut mengalami mati, bukan, tapi takut akan rasa sakit yang ditimbulkan oleh kematian. Sebetulnya, manusia tidak takut mati, ia hanya tak mau mengalami rasa pedih, tapi ketika kepedihan hidup sudah jauh melampaui dugaan sakitnya kematian, maka bunuh diri adalah masuk akal. Tapi poin penting yang patut digarisbawahi adalah manusia tak ingin mati, ia hanya ingin mengakhiri kepedihan dan dengan kematian ia bisa mendapatkan. Padahal kita tak pernah mengerti apa yang terjadi selepas kematian.

Kedua, ada bayang-bayang kehidupan pasca kematian yang belum tentu tak lebih pedih dari pada kehidupan dunia. Ketiga, bukankah dengan bunuh diri akan menimbulkan kehancuran mental orang-orang terdekat yang menggap ia berharga. Tidakkah sama artinya menyebarkan virus absurditas dan nihilisme baru kepada orang lain yang ditinggalkan?

“Hidup adalah perlawanan terhadap absurditas” begitulah simpulan Albert Camus. Jika memang tak mampu mengakses sumberdaya kebahagiaan dan harus bergelut dengan kepedihan, menjalaninya dengan apa adanya merupakan sebuah pilihan.

Fasilitas kenikmatan bergaransi dari agama juga merupakan pilihan, jika anda tak naif untuk mengakui dan memilihnya. Terus mengalami kesengsaraan dalam berusaha mencapai kenikmatan hedonistis yang disediakan kapitalisme, pula merupakan pilihan. Streaming game atau menonton anime 7 x 24 jam tidak lain merupakan pilihan.

Akhir kata, hidup tak benar-benar bermakna, dan kesadaran akan kehidupan yang buruk, rusak dan tidak adil ini justru menciptakan absurditas dan nihilisme. Jika tak ingin mempercepat kematian, satu-satunya pilihan adalah menjalaninya dengan sedikit berharap mempu menggunakan fasilitas kebahagiaan dari pintu manapun. Tapi bukankah tidak buruk juga untuk benar-benar memilih kembali ke agama?

Penikmat kopi dan anime. Terkadang suka membaca dan menulis di sela loading game. Sedang coba memahami siyasah dan hikmah.

About Lukfi Kristianto

Penikmat kopi dan anime. Terkadang suka membaca dan menulis di sela loading game. Sedang coba memahami siyasah dan hikmah.

View all posts by Lukfi Kristianto →

One Comment on “Absurditas dan Nihilisme di Era Pasca-agama: Refleksi atas Kebahagiaan”

Comments are closed.