Andai Musibah Tak Pernah Ada

“Apabila bumi telah diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat” (QS: Az-Zalzalah:[99]6)
“Dan apabila lautan dijadikan meluap” (QS: At-Takwir:[81]6).

Belum hilang di ingatan kita dengan berbagai bencana alam yang melanda negara Indonesia akhir-akhir ini. Di penghujung tahun 2018 saja, bermacam-macam peristiwa menyedihkan itu silih berganti. Ketika cucuran air mata duka korban yang satu belum sempat kering diseka, di belahan pulau lainya tangisan yang sama muncul lagi.

Bencana yang paling banyak menelan korban dan kerugian materi yang luar biasa adalah amukan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah dan sapuan tsunami Selat Sunda yang menerjang pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan. Nahasnya, kejadian bertubi-tubi ini dipandang sebagian masayarakat dengan respon yang tidak enak. Dari mulai mengaitkannya dengan manusia yang banyak melakukan maksiat sampai yang menautkannya dengan ritus tradisi warga berupa larungan sesajen ke laut, dengan dalih mengahambur-hamburkan makanan serta berbau kesyirikan. Sehingga azab lah yang pantas diterima.

Selain itu, komentar lainya juga datang seperti menghubung-hubungkan bencana dengan konser musik. Yang mereka fatwakan haram, bid’ah, dan lain sebagainya. Terakhir yang acap kali tak diduga, adanya bencana di mana-mana ini disebabkan oleh rezim pemimpin yang sedang berkuasa sebagai presiden yang tidak amanah, antek PKI, bahkan tidak cinta terhadap alim ulama.

Dibalik itu semua, entah mana yang benar, berbagai komentar tadi bermuatan politis atau memang murni konsep berpikir mereka yang condong konservatif. Tapi satu yang pasti di tengah suhu perpolitikan nasional yang cukup panas ini segala cara dan celah kesempatan bisa digunakan untuk alat propaganda politik.

Saya di sini sedang tidak pro terhadap pihak petahana ataupun pihak oposisi. Tapi saya ingin menawarkan pandangan lain, bagaimana cara kita memandang, menilai, menyikapi, dan memetik hikmah dari kejadian musibah dan bencana alam. Ratusan bahkan ribuan tahun lalu, Rasulullah Saw. dan para sufi bijak bestari telah memberikan ibroh (pelajaran) yang sarat akan nilai moral dan kearifan yang adiluhung.

Al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya` menuturkan dari Walid bahwa dia berkata:
Aku menjenguk Ibrahim al-Maghribi. Seekor bighal telah menyepak dan mematahkan kakinya. Beliau mengatakan, “Andai musibah dunia tidak pernah ada, niscaya kita datang ke hadapan Allah dalam keadaan merugi.”
***

Rasulullah Saw. mengajari para sahabat agar tangguh memikul beban sesaat demi meraih kenikmatan abadi. Begitu sebentarnya kehidupan dunia bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Rasulullah Saw. Pernah menyampaikan kepada para sahabat :
“Di hari kiamat kelak akan didatangkan orang yang mati syahid kemudian diberdirikan untuk diperhitungkan segala amal perbuatannya. Selanjutnya akan didatangkan orang yang gemar bersedekah kemudian catatan mereka akan diperiksa. Setelah itu, akan didatangkan golongan orang yang tertimpa musibah. Amal mereka tidak ditimbang dan catatan mereka tidak diperiksa. Pahala akan dikucurkan kepada mereka dengan derasnya, sampai-sampai mereka yang dulunya selamat tidak pernah tertimpa musibah mengharap-harapkan seandainya tubuh mereka dipotong-potong dengan gunting karena mengetahui banyaknya pahala Allah untuk mereka”.

Kita meyakini bahwa bila Allah Swt. mencintai seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya dan ingin menempatkannya pada derajat tinggi di surga—kedudukan mulia itu tidak bisa dicapai dengan bekal amal ibadah seshalih apapun amalan tersebut—maka Dia akan menimpakan bala dan ujian padanya untuk Dia anugerahi pahala tanpa hisab di akhirat kelak.

Pada suatu hari, Rasulullah Saw. duduk di tengah-tengah sahabat. Beliau menyampaikan sebuah hadis qudsi dari Allah Swt. bahwa Dia berkata, “Wahai Jibril, tidak ada pahala bagi hamba-Ku ketika diambil dua matanya kecuali akan melihat Wajah-Ku dan bertetangga dalam rumah-Ku.”

Sahabat Anas, perawi hadis di atas berkata, “Sungguh aku melihat para sahabat Nabi menangis di dekat beliau sembari menginginkan agar penglihatan mereka hilang.”

Dalang edan Sujiwo Tedjo turut bertutur di akun twiter resminya terkait bencana tsunami, bahwasanya yang tak menjadi korban seperti dirinya malah bisa saja menjadi pihak yang celaka dan merugi. Pasalnya orang yang tak meninggal dunia akibat tsanami tersebut masih sibuk mengejar urusan dunia.

“Sebab, siapa tahu yang tampak meninggal justru yang selamat, dan yang tampak tak meninggal kayak kita-kita ini justru yang celaka karena harus gedebugan di dunia.

merugilah kita !!! 

Alumni Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Kini, tengah menempuh jurusan Kimia kebahagiaan, di Universitas Negeri Semarang.

About Muhammad Harir

Alumni Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Kini, tengah menempuh jurusan Kimia kebahagiaan, di Universitas Negeri Semarang.

View all posts by Muhammad Harir →