Bercakap dengan Kambing Kurban

Usai shalat Idul Adha, aku pulang berjalan kaki. Di halaman masjid kulewati hewan-hewan kurban yang pagi ini akan disembelih. Seekor kambing gembel berwarna coklat tengah glesotan di bawah pohon jambu, dengan leher terikat tentunya. Mulutnya tampak mengunyah rumput dan matanya memandang ke arahku.

Jamaah salat Id lain sudah banyak yang pulang, sebagian malah sudah kemari lagi dengan membawa golok, tali, dan peralatan sembelih lainnya. Tiba-tiba kakiku tergerak untuk mendekati kambing itu. Dengan iseng aku bertanya,

“Bagaimana keadaanmu, mbing?”

“Seperti yang kau lihat, aku sedang makan rumput,” jawab kambing itu. Aku terkejut, ternyata kambing itu bisa merespon dengan bahasa manusia.

“Kamu tau kan sebentar lagi akan disembelih?”

“Tentu saja,” jawabnya setelah mengembik, mungkin embikan itu semacam menertawakan pertanyaanku yang konyol.

“Kau tidak takut atau sedih, mbing?”

“Sedih untuk apa? Setiap hewan ternak akan berakhir dengan leher tergorok. Daging kami akan dicincang-cincang, entah oleh panitia kurban atau oleh penjual daging di pasar. Bahkan jika tuan kami tak sempat menyembelih kami, penyakit akan menggerogoti tubuh kami dan itu membuat kami semakin menderita. Jadi apa yang perlu disedihkan dari kematian ini?”

Kambing itu memakan rumputnya kembali. Kemudian melanjutkan, “Kami yang di sini justru berbahagia. Kambing yang berakhir di pasar daging telah benar-benar berakhir. Sedangkan kami nantinya akan mendapat tugas mulia menjadi tunggangan tuan kami melewati jembatan shiratal mustaqim. Seorang pengawal khusus tentu tidak akan mengantar tuannya hanya sampai depan pintu, ia akan masuk serta.” Ia mengembik lagi, kali ini embikannya lebih seperti tertawa menyenangkan.

“Tapi, tidak ada yang menjamin bahwa tuan yang mengurbankanmu ini akan langsung masuk surga.” Aku mencoba realistis pada hayalan si kambing.

“Memang benar, seseorang tidak dijamin masuk surga hanya karena berkurban. Tapi itu bukan urusanku, tugasku hanya mengantar. Mungkin saja ia akan terjatuh saat menunggangiku karena berat dosanya. Dan aku akan bergelantungan di jembatan itu, kemudian melanjutkan perjalanan sendiri. Kalaupun aku ikut terjatuh, aku tidak akan sampai ke neraka. Mungkin akan menghilang di jurang neraka yang harus ditempuh jutaan tahun itu sebelum mencapai dasarnya. Karena, ah tentu kau sudah tau kan? Manusia yang katanya pernah belajar agama, bahwa bahan bakar neraka hanya manusia dan batu. Tidak ada kambing di sana.”

“Mungkin kau akan mengantar tuanmu saat ia telah benar-benar ditakdirkan di surga, mbing. Mungkin setelah dientas dari neraka. Setiap muslim yang di dadanya terdapat keimanan kepada Allah meskipun seberat biji zarrah telah dipastikan surga tempat kembalinya,” ucapku yang lebih tampak seperti menghibur diri.

“Bisa jadi seperti itu. Tapi yang pasti, jika seluruh kambing, bahkan juga sapi dan unta ditanya, tentu ia akan memilih mati digorok lehernya pada hari ini. Itu adalah kematian yang pasti. Tapi hewan ternak tidak bisa memilih jalan hidupnya, tidak bisa memilih akan dikurbankan atau dijual ke pasar. Sedangkan manusia, mereka dapat memilih. Ladang jihad terbuka lebar. Mereka bisa memilih menjadi syuhada, orang yang menghidupkan agama, atau ahli maksiat. Tapi lucunya, kebanyakan mereka justru memilih kematian yang tak pasti.”

“Manusia bahkan terus menutup telinga dan hati akan mati itu sendiri, mbing,” ucapku lirih.

Anak kecil yang baru belajar memegang pena. Pecinta Buku, Alam, dan anak-anak.

About Sofia Nur Khasanah

Anak kecil yang baru belajar memegang pena. Pecinta Buku, Alam, dan anak-anak.

View all posts by Sofia Nur Khasanah →