Bucaillisme: Sains Islam atau Pseudosains?

Persinggungan antara dunia Islam dan Barat telah melahirkan sebuah kondisi sosial yang unik. Kemajuan Barat dengan segala modernisasinya telah banyak membuat masyarakat Islam merasa inferior hingga melakukan upaya-upaya glorifikasi terhadap peradaban Islam masa lampau. Mereka beranggapan bahwa peradaban Barat yang kini maju berhutang besar pada peradaban Islam yang pernah gemilang pada masanya.

Benar, Islam pernah berjaya, benar pula peradaban Islam pernah unggul dalam bidang ilmu pengetahuan berkat penemuan-penemuan para sarjana muslim. Namun menganggap bahwa Barat maju semata-mata karena warisan Islam adalah kesesatan berpikir tersendiri. Karena kemajuan Barat bukan hasil jiplakan sekali jadi. Ia adalah hasil akumulasi dari usaha dan ketekunan dalam proses pengembangan yang tiada henti.

Kecenderungan lain dari rasa inferior masyarakat muslim adalah anggapan bahwa sains yang benar adalah sains yang bersumber dari Alquran. Dan tertolaklah segala hal yang tidak bersesuaian denga teks Alquran. Saya sependapat bahwa Islam adalah agama yang pro dengan ilmu pengetahuan, saya juga meyakini bahwa Alquran adalah sumber kebenaran mutlak. Namun jika jalan tersebut ditempuh dengan cara otak-atik-gatuk atau sekedar cocoklogi, saya rasa itu menjadi problem tersendiri.

Bucaillisme yang Memesona

Jika anda pernah mengagumi tulisan-tulisan atau video Harun Yahya yang telah dengan ambisiusnya menguliti teori Evolusi Darwin dengan berlandaskan ayat Alquran, berarti anda sama seperti saya. Di tangan Harun Yahya, Alquran dan ajaran Islam seperti serba ilmiah, cocok (atau lebih tepatnya dicocok-cocokkan?) dengan berbagai fenomena alam dan sejarah. Faktanya, daya tarik Harun Yahya dengan segala argumentasi keagamaanya sempat membuat saya mengimani betul pandangan ini. Namun apakah model berfikir sains ala Harun Yahya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik?

Untuk menjawab pertanyaan ini coba kita tengok sejarah perkembangan relasi sains dan Islam yang pernah terjadi di dunia. Fenomena seperti Harun Yahya sebenarnya bukan hal baru di dunia pemikiran sains Islam. Jauh sebelum itu sekelompok cendekiawan muslim terpesona dengan kehandalan sains dan mencoba mengadopsinya untuk proyek modernisasi. Tidak sekedar mendukung upaya akuisisi, lebih jauh mereka bahkan berupaya menunjukkan keselarasan antara sains modern dan Alquran.

Berbagai temuan sains modern dicarikan ayat-ayatnya yang selaras sehingga dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa Alquran dapat dibuktikan​ secara ilmiah. Hal ini dianggap sebagai salah satu mukjizat Alquran karena telah berbicara tentang kebenaran ilmiah jauh sebelum sains modern ada. Diakui atau tidak, pengakuan keterbuktian itu dapat mendongkrak rasa percaya diri umat Islam dalam ketertinggalannya dari Barat dalam bidang sains.

Model pandangan seperti ini dikenal dengan sebutan Bucaillisme, yang dinisbatkan kepada Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis yang terkenal karena bukunya La Bible, Le Coran et la Science. Dalam bukunya tersebut Bucaille berbicara tentang ayat-ayat Alquran tentang penciptaan alam raya, langit dan bumi, binatang dan tumbuhan, serta proses perkembangan janin yang dinilai sesuai dengan sains modern, tidak seperti Injil yang pernyataannya​ banyak yang berseberangan dengan temuan sains kontemporer.

Dalam perkembangannya model sains ala Bucaillisme ini banyak digunakan dalam upaya pembuktian mukjizat Alquran dan hadits dengan sains modern. Namun para Bucaillis kontemporer yang menyebut kajiannya sebagai sains Islam mendapat banyak kritikan. Pasalnya, sains Islam model Bucaillis tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai sains Islam karena: objek kajiannya diluar wilayah sains, tidak bisa diverifikasi, dan tidak memberikan teori baru selain penjelasan terhadap sesuatu yang telah ditemukan.

Oleh Fazlur Rahman, sains Islam model Bucaillis dinilai masih problematis karena cenderung mekanistik dan tidak kreatif sebab hanya menunggu temuan ilmiah lalu dicarikan ayat-ayatnya. Ini sama seperti pendapat Mehdi Gholsani yang menganggap bahwa model Bucaillis tidak sejalan dengan semangat Alquran yang mendorong kajian atas Islam, bukan sekedar menunggu temuan orang lain.

Selanjutnya, Hoodboy dalam bukunya Ikhtiar Menegakkan ikut mengkritik pandangan ini karena menilai model Bucaillis memiliki resiko ketika adanya perubahan atau kesalahan pada teori yang terlanjur digunakan sebagai penjelasan suatu ayat. Karena ini berarti juga kesalahan ayat yang dijelaskan tersebut.

Terlepas dari berbagai sisi positif dan negatifnya, model sains Islam ala Bucaillisme ini patut diapresiasi karena telah memberikan warna tersendiri bagi perdebatan tentang integrasi sains dan Islam. Perdebatan yang hadir setelahnya antara tafsir ilmi yang berbaur dengan sains Islam telah membuat perdebatan tentang sains Islam menjadi semakin semarak.

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Penikmat tempe yang pernah bercita-cita jadi wartawan partikelir.

About Imam S. Zahri

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Penikmat tempe yang pernah bercita-cita jadi wartawan partikelir.

View all posts by Imam S. Zahri →