Buya Hamka; Ulama Modernis dan Politikus Inklusif

Suarr.id–Dunia modern yang menuntut sikap dinamis, serta ketersediaan untuk bersaing secara utuh sebagai manusia dan kesiapan untuk menerima perkembangan ilmu pengetahuan menyebabkan hadirnya persengkataan, kegersangan batin, tidak bermaknaan diri, hawa nafsu yang merajalela dalam diri manusia. Agama sebagai pembina jiwa adalah obat mengatasi berkuasanya hawa nafsu tersebut. Salah satu ulama modernis Indonesia yang mempunyai perhatian terhadap hal tersebut adalah Buya Hamka, sosok yang mempunyai sifat dinamis dan pemaaf, inklusif terhadap yang berbeda dengannya serta mempunyai kharisma yang begitu besar.

Buya Hamka mempunyai nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatra Barat pada 17 Februari 1908 M dan meninggal di Jakarta pada 24 Juli 1981 M. Beliau adalah ulama modernis yang berbeda dengan kebanyakan modernis lainnya, yang tidak hanya mengumandangkan slogan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Namun beliau sosok ulama yang mempunyai pandangan bahwa ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang netral atau bebas nilai.

Oleh karena itulah, pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Barat bisa sesuai dengan Islam. Salah satu pandangannya bisa dilacak lewat bukunya yang berjudul Pelajaran Agama Islam, di mana Hamka banyak menggunakan teori dan hasil penemuan para pemikir Barat untuk mengukuhkan keyakinan kepada rukun iman.

Sebagai ulama modernis, Hamka tidak begitu saja menolak tasawuf yang dianggap oleh sebagian kalangan modernis penghambat laju kemajuan peradaban Islam. Hamka justru mendalami dunia tasawuf, walaupun ajaran tasawuf dianggap mengandung banyak penyimpangan dengan Sunnah Rasul oleh para kalangan modernis. Namun, hal inilah yang membedakan Hamka dengan ulama modernis lainnya dalam memandang tasawuf. Hamka menyatakan bahwa memang banyak percampuran Islam  dan agama-agama lain, khususnya di dalam tarekat tarekat. Oleh karena itulah, Hamka ingin menyuguhkan sebuah paradigma tasawuf yang berbeda yang disebut dengan tasawuf modern. Dimana dalam hal ini, Hamka merujuk kepada Junaid Al-Baghdadi yaitu “Keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi  pekerti yang terpuji”.

Baca juga: Imam Ibn Ajrum: Ulama Maroko di balik Kitab Jurumiyah

Baca juga: Riffat Hassan (1): Masa Kecil dan Misi Mendidik Perempuan

Dalam pandangan Hamka, agama adalah jalan kebahagiaan dan untuk menuju kebahagiaan tersebut salah satunya adalah dengan keimanan. Semua persoalan hidup, penderitaan, rasa terasing dan lain sebagainya akan terobati dengan keyakinan yang kukuh. Bahwasanya Islam dalam perspektif Hamka adalah agama yang selalu dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman modern. Dan Islam juga yang  menjadi obat luka akibat modernitas. Misalnya seperti teori-teori sosial, psikologi, dan lain sebagainya yang digunakan sebagai argumen penambah keimanan.

Hamka berusaha menampilkan Islam yang siap berdialog dan terbuka terhadap penemuan-penemuan ilmu pengetahuan baru, yang merupakan satu ciri khas gerakan modernisme Islam. Sebagai sosok manusia modern, Hamka bergelut dalam berbagai bidang seperti organisasi Muhammadiyyah, serta mendalami sastra, filsafat, sains, dan keilmuan Islam seperti tasawuf yang dibingkainya dengan  modernitas sehingga banyak orang yang mengagumi sosok Hamka karena pemikiran, karakter, dan kiprahnya yang mempunyai peranan penting dalam mengeratkan hubungan Malaysia dan Indonesia.

Pasca kemerdekaan Indonesia, pergulatan politik yang terjadi di Indonesia berlangsung begitu keras. Salah satu momen kerasnya pergulatan politik tersebut adalah di masa penghujung pemerintahan Soekarno, dimana rezim Soekarno pada awal 1960-an mulai bersikap keras dengan lawan-lawan politiknya. Salah satu contohnya adalah Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia yang dipaksa bubar karena keterlibatan tokoh-tokohnya dalam Pemerintaha Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Kemudian tahun 1385 H, tepatnya pada 12 Ramadhan atau 27 Januari 1964 M, Hamka juga menjadi korban kekerasan politik Soekarno. Beliau ditangkap dan dibawa ke Sukabumi untuk ditahan dengan tuduhan melanggar undang-undang anti subversive Pempres No. 11, yang mana beliau dituding merencanakan pembunuhan terhadap Soekarno. Hal tersebut bisa dikatakan sebagai aksi politik penguasa waktu itu.

Baca juga: Edward Said: Orientalisme dan Sebelumnya

Hamka dituduh sebagai penghianat negara, karena ingin menjual negara kepada Malaysia. Hal ini diungkapkan dalam pengantar bukunya, Tasawuf Modern. Kurang lebihnya selama 2 tahun 4 bulan, Hamka ditahan  oleh rezim Soekarno. Namun, Karena ditahan oleh rezim tersebut Hamka malah produktif menulis dan salah satunya adalah berhasil menyelesaikan kitab tafsirnya yang berjumlah 30 juz.

Di sinilah Hamka memandang segala sesuatu yang terjadi, pasti ada hikmah dibaliknya.

Setelah rezim Sukarno tumbang dan Hamka bebas, beliau tidak dendam kepada Soekarno. Salah satu buktinya adalah ketika Soekarno meninggal, yang mana sebelumnya Soekarno memberi wasiat supaya disholati oleh Hamka. Hamka datang memenuhi wasiat yang diinginkan oleh Soekarno, bahkan Hamka tidak hanya menyolatkan sebujur jenazah Soekarno, tetapi beliau juga membasuh luka-luka pertarungan politik masa lalu dengan sikapnya tersebut.

Kisah perseturuan Hamka dengan Soekarno adalah satu diantara berbagai perseteruan Hamka dengan tokoh-tokoh besar bangsa yang menjadi lawan poitiknya, namun pada akhirnya berujung dengan sebuah ketentraman tanpa ada dendam diantara mereka.

Baca juga: Ziarah ke Makam Imam ‘Abdurrahman al-Auza’i di Beirut, Lebanon

Kisah lain misalnya, perseteruan Hamka dengan Muhammad Yamin perihal perbedaan pandangan mengenai Pancasila di dewan konstituante. Perdebatan panjang antara Muhammad Yamin dan Hamka yang merupakan sama-sama putra Minang, mengakibatkan perseteruan diantara mereka berdua dan menjadikan Hamka orang yang paling dibenci oleh Muhammad Yamin. Namun, ketika Muhammad Yamin sakit dan kelak ketika meninggal ingin dimakamkan di Talawai, Sawahlunto, tempat lahirnya yang sudah lama tidak dikunjungi, hal tersebut terganjal masyarakat Minang yang terluka dengan perkataan Muhammad Yamin, yaitu ketika terjadi pergolakan PRRI. Di mana waktu itu Muhammad Yamin turut mengutuk aksi pemisahan wilayah dari Indonesia yang kemudian peryataan tersebut melukai masyarakat tanah kampungnya. Akan tetapi, kelembutan hati Hamka kembali ditunjukkan dengan membantu supaya jenazah Muhammad Yamin  bisa dimakamkan di  tanah Minang.

Hamka kemudian menuruti keinginan Muhammad Yamin yang merupakan orang yang membencinya selama dia masih hidup. Namun, Hamka tidak dendam dengan Muhammad Yamin. Dia menjenguk Muhammad Yamin dan memberi jaminan ketika Muhammad Yamin meninggal akan bisa dimakamkan di tanah Minang. Hal tersebut adalah bentuk keluhuran hati seorang ulama besar Indonesia, yang sikap-sikapnya harus tetap diteladani oleh para tokoh bangsa yang ada saat ini, khususnya para politikus-politikus yang sedang menjabat dan sering berseteru satu sama lainnya karena perbedaan politik.

Baca juga: Mata Air itu Bernama Gus Mus

Perjuangan dan jasanya melewati batas-batas perjuangan politik dan kehidupan umat serta bangsa. Karena Hamka berjuang untuk memajukan umat dan negara serta bangsa dalam berbagai bidang kehidupan sejak dari sastra, pemikiran, tasawuf, tafsir, pendidikan modern Islam, dakwah, politik, dan perjuangan melawan kebatilan.

Hamka adalah ulama multitalenta yang relevan dengan tantangan kaum intelek dan ulama Indonesia masa kini dan mendatang, yang bisa menjadi inspirasi dalam membuka perspektif intelektualisme kritis dalam menyikapi perubahan lingkungan yang sangat cepat.

Alumni Islamic Studies International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

About Nur Hasan

Alumni Islamic Studies International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

View all posts by Nur Hasan →