Café Mesir: Antara Suasana dan Sejarah

Suarr.id – Mesir tanpa café seperti revolusi tanpa kepala. Negara yang digadang Khediv Ismail sebagai cerminan Eropa ini berhasil menciptakan kesadaran bahwa keberadaan café (maqha) harus mampu menjadi ruang publik yang dinikmati oleh kalangan dengan beragam latar belakang.

Kolumnis Mesir pernah berguyon, secangkir kopi yang dihidangkan istri kepada suaminya, sangat berbeda dengan secangkir kopi yang disajikan oleh barista di café. Bila si suami menumpahkan kopi di meja, yang terjadi kemudian adalah bentakan istri memarahinya karena lengah di sela-sela baca koran.

Berbeda dari bila kecelakaan kopi tumpah berlangsung di café, pelayan akan datang membersihkan meja dan menghidangkan secangkir kopi yang hangat. Penulis yang saya lupa namanya itu menghadirkan tawaran suasana dan tuah café Mesir.

Selain suasana, café juga sudah menyejarah di Mesir.

BAB EL LOUQ, 1936. Yusuf Efendy mendirikan café yang ia beri nama Hurriyah (kebebasan) di sekitar Bab el Luq square. Awal dibuka, perjalanan café buntung karena letaknya yang tidak strategis: jauh dari pemukiman penduduk dan dari gerak laju orang.

Kondisi miris ini berlangsung hingga tahun 1942—berbarengan dengan meletusnya Perang Dunia II. Dengan banyaknya berdatangnya pasukan sekutu (Inggris) ke Mesir, café ini mulai menemukan tuahnya. Tentara sekutu menggemari café Hurriyah karena kualitas sajian minuman dan harga yang terjangkau.

Sejak saat itu, bangsawan, tentara, polisi, seniman menemukan seleranya di sana. Café Hurriyah masih bertahan sampai sekarang dan hanya ada beberapa renovasi. Presiden Anwar Sadat termasuk dari sederet tokoh yang menjadi pelanggan café Hurriyah.

Cafe el Hurriyah, Cairo

DI ANTARA MOSKY DAN ATABAH, ada café Matatiya—salah satu café bersejarah yang pernah disinggung dalam novel La Ahada Yanamu fil Iskandariyah. Café ini lekat dengan nama Jamaluddin Al Afghani, tempat ia menghisap sisya sepanjang hari dan mengobrolkan revolusi kepada orang-orang. Ia menjadi saksi revolusi 1919, yang dipimpin oleh Saad Zaghlul, pemimpin Pergerakan Nasionalisme Mesir.

Café Matatiya dikenal sebagai café paling bersejarah di Mesir karena banyak peristiwa besar lahir dari tiap kursi yang diduduki tokoh besar seperti Zaghlul, Abdullah Nadim, Mahmud Sami al Barudy.

Image result for café Matatiya
Café Matatiya

DISTRIK AL AZHAR, berdiri café El Fishawy yang masih kokoh sampai sekarang dan banyak didatangi turis. Dibangun pada 1797 oleh Hag Fahmi Ali El Fishawy. Nama café ini kerap dilekatkan dengan nama sastrawan Mesir, Naguib Mahfoudz. Beberapa karya perdananya tak jarang mencantumkan namanya.

Tiga café diatas hanya satu nafas dalam denyut sejarah café negeri yang, oleh Napoleon, disanjung sebagai “negeri yang tak pernah mengenal kesedihan.”

Rasha Adly, penulis Mesir berimajinasi dengan bangga tentang tradisi ber-café rakyat Mesir. Pada masa ketika barang elektronik seperti televisi dan radio belum masuk ke rumah-rumah, ia melontarkan pertanyaan, bagaimana nenek moyang mereka menghabiskan waktu dan menikmati masa senggang mereka?

Related image
Café El Fishawy

Ia berkesimpulan, mayoritas buruh yang bekerja sebagai pengrajin bekerja dengan durasi pendek, tidak mengherankan apabila pendahulunya bisa menciptakan tempat bersama guna menghabiskan waktu luang dan menghibur diri. Dua tempat terfavorit waktu itu adalah café dan pemandian umum.

Orientalis Inggris Edward William memperkirakan lebih dari 1000 café tersebar di pusat dan sudut Kairo ketika jumlah penduduk Kairo sekitar 300 ribu orang. Diperkirakan perempuan Kairo separuh dari penduduk total. Jumlah anak-anak 50 ribu orang. Sisanya, tinggal 100 ribu pria. Artinya 1 café untuk 1000 pria.

Dalam buku Al Qahirah: Al Madinah wa Ad Dzikrayat (Kairo: Kenangan Sebuah Kota), Rasha menyinggung kebiasaan orang-orang Mamalik—yang dikenal sebagai bangsa pecinta buku—yang memiliki café-café khusus untuk menghirup ganja dan minum arak yang terletak di sepanjang kawasan Bulaq. Begitu juga bangsa Turki Utsmani mempunyai café-café khusus di distrik Shalibiyah. Para Basybazug (orang yang menyewakan dirinya untuk pergi berperang) berlanggganan di sana.

Terakhir, mari kita simak deskripsi dari Sejarawan Bares Dauphin tentang satu suasana bercafe di Mesir:

“Terlihat banyak batu api (korek) dan sisya Lattakiya Suriah. Para penganggur datang minta belas kasih di tempat terhormat itu karena kelesuan nasib mereka. Petani-petani miskin sedang melupakan kesengsaraan dalam tegukan kopi arab yang diteguk dengan nikmat… Orang-orang duduk berkumpul dengan urusan masing-masing dan sesekali didatangi pengemis yang mencoba meminta perhatian mereka dengan kisah-kisah majnun ketika dilihatnya mereka jarang tertawa.”

Pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa, Konsentrasi As-Sohafiy (Kewartawanan), Universitas Al Azhar, Mesir. Sekarang bekerja sebagai Guru dan penerjemah buku-buku berbahasa Arab.

About Abdul Majid

Pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa, Konsentrasi As-Sohafiy (Kewartawanan), Universitas Al Azhar, Mesir. Sekarang bekerja sebagai Guru dan penerjemah buku-buku berbahasa Arab.

View all posts by Abdul Majid →