Dapatkah Sains dan Agama Bersatu?

Pada mulanya, sains, agama, dan filsafat adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun semenjak era renaisans yang bercorak sekuleristik, bukan saja sains yang menjaga jarak dengan agama, tapi juga filsafat yang pada akhirnya memilih jalannya sendiri.

Akhir-akhir ini, isu integrasi agama dan sains kembali menghangat setelah menjamurnya berbagai seminar, munculnya artikel, dan terbitnya buku-buku dengan tema tersebut. Upaya untuk membangun kembali hubungan yang positif antara sains dan agama kembali marak setelah sebelumnya cenderung negatif.

Wacana pembangunan hubungan antara sains dan agama, khususnya Islam, di era kontemporer sebenarnya sudah dimulai semenjak Turki Usmani mengadopsi sains Barat setelah kekalahan yang dideritanya, ditengarai oleh  ketertinggalan teknologi militer dari Eropa.

PenguasaTurki Usmani berkesimpulan bahwa satu-satunya cara untuk mengejar ketertinggalan adalah dengan melihat dari dekat sejauh mana kemajuan Eropa kala itu, serta belajar dari mereka tentang pengembangan sains dan teknologi modern. Upaya ini ditindaklanjuti oleh Sultan Mehmed II dengan membangun sekolah teknik, militer, dan kedokteran.

Namun dalam keberjalanannya, upaya dari kelompok transformatik yang mencoba membangun umat Islam menjadi masyarakat yang rasional ini sempat mendapat tantangan hebat dari kelompok ortodoks yang dengan tegas menolak segala modernitas yang berasal dari Barat yang kafir. Karena menurut mereka kebangkitan Islam hanya bisa diraih dengan kembali kepada dasar-dasar Islam itu sendiri dan menerapkannya secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, bukan dengan modernisasi model instrumentalistik.

Dalam perkembangan berikutnya, perdebatan tentang hubungan antara sains dan Islam semakin meruncing pada isu sains khas Islam yang sama sekali berbeda dengan sains Barat. Tetapi wacana ini juga mendapat tantangan dari kelompok lain yang berpendapat bahwa sains adalah wilayah yang netral, universal, dan bebas nilai sebagaimana pendapat para instrumentalis.

Kelompok ini berpendapat bahwa sains dan teknologi tidak mempengaruhi keyakinan keagamaan. Ia dapat digunakan siapa saja meskipun berasal dari latar belakang keagamaan dan budaya yang berbeda. Menurut salah satu dedengkot yang digolongkan ke dalam kelompok ini, Jamaluddin Al Afghani, Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, bahkan sangat menganjurkan untuk meraihnya. Sekalipun Al Afghani sangat anti Barat, tapi ia tidak anti ilmu pengetahuan modern.

Selanjutnya pada kelompok yang setuju dengan sains khas Islam pun sebenarnya tak sepenuhnya satu suara dalam konsep sains Islam yang dibangun. Ada yang menyajikan sains Islam dalam bentuk kesesuaian antara Al Qur’an dan temuan sains kontemporer, kelompok ini disebut Bucailis (dinisbatkan kepada Maurice Bucaile, penulis buku La Bible le Coran et la Science). Ada yang yang menolak sains Barat sepenuhnya dan menghadirkan sains khas Islam yang sama sekali berbeda, ini disebut kelompok fundamentalis. Dan ada pula kelompok yang tidak menolak sains Barat dan mengakui beberapa bagian yang sesuai dengan sains Islam, kelompok ini disebut penganut science in islam perspective.

Yang paling mutakhir, wacana hubungan sains dan Islam yang menyentuh aspek sains secara lebih fundamental dapat dilihat dari pemikiran para pemikir sains Islam yang oleh Muzaffar Iqbal disebut sebagai “jaringan baru”. Mereka melihat sains secara lebih menyeluruh, tidak sekedar instrumen netral karena menekankan pada sisi temuan, juga tidak sekedar menekankan kehandalan temuannya untuk membuktikan kebenaran wahyu. Gembong dari jaringan ini diantaranya, Ismail Al Faruqi, Naquib Al Attas, Seyyed Hossein Nasr, Mehdi Gholsani, dan Ziauddin Sardar.

Para pemikir ini tidak memandang sains Barat semuanya jelek, sehingga harus ditolak. Karena menurut mereka sains hanya sebagai kumpulan teori atau temuan yang diterapkan dalam teknologi berikut metode khasnya (Iqbal, 2002). Tapi mereka juga menggarisbawahi bahwa sains tidak bisa dilepaskan dari pandangan masyarakat Barat yang mendasarinya. Ini yang menjadi dasar kritik Nasr, bahwa akibat dari pandangan dunia yang sekuleristik dan materialistik, menimbulkan dampak destruktif terhadap lingkungan yang mengakibatkan krisis spiritual bagi manusia modern.

Dari semua kontroversi ini kita dapat melihat bahwa sikap atas sains tidak terlepas dari kondisi inferior umat Islam. Karena itu muncul sikap menerima atau menolak secara semena-mena terhadap sains. Persoalan teologis juga membuat integrasi antara sains dan Islam semakin runyam karena sains datang dari budaya barat yang dinilai kafir.

Rupanya inilah yang terus menerus terjadi dalam dunia Islam sebagai sebuah dinamika pencarian formulasi yang pas antara relasi sains dan agama. Dan kedepan, sepertinya pertentangan demi pertentangan masih akan terus mewarnai diskursus ini. Sekalipun lambat, paling tidak Islam masih mau bergerak untuk menjawab berbagai tantangan zaman agar tetap relevan.

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Penikmat tempe yang pernah bercita-cita jadi wartawan partikelir.

About Imam S. Zahri

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Penikmat tempe yang pernah bercita-cita jadi wartawan partikelir.

View all posts by Imam S. Zahri →