Edward Said: Orientalisme dan Sebelumnya

Edward Wadie Said (1935-2003) lahir di Yerussalem Barat dari sebuah keluarga Kristen Palestina. Ia dibesarkan mulai dari Yerussalem, Kairo, Lebanon hinga Amerika Serikat. Kehidupannya dijalani sebagai seorang exile dan menghabiskan sebagian besar hidupnya—termasuk puncak karirnya sebagai seorang pemikir–di Amerika.

Said adalah salah seorang intelektual paling dikenal di abad kedua puluh, ia sudah menulis lebih dari dua puluh buku, juga banyak sekali menulis esai dan artikel. Di samping itu, ia turut mengajar di universitas-universitas​ dari pelbagai belahan dunia, berulang kali memegang kursi terhormat disana, serta dianugerahi pelbagai gelar kehormatan, termasuk gelar doktor kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India.

Memulai karir sebagai seorang kritikus sastra, ia menerbitkan buku perdananya yang berjudul “Joseph Conrad and the Fiction of Autobiography” pada tahun 1966. Usai itu, tayang kemudian buku kritik sastra keduanya berjudul “Beginnings: Intentions and Method” (1975).

Namun, selepas perang Arab-Israel tahun 1967, minat Said dalam hal politik semakin meningkat. Dan semenjak ketegangan itu bergejolak ia menjadi sangat kritis terhadap kebrutalan Zionis dan penyajian Barat yang salah kaprah tentang orang-orang Arab dan Palestina.

Baca juga: Adonis: Aku Dilahirkan untuk Puisi

Karya magnum opus-nya yang paling terkenal adalah “Orientalism” (1978), sedang dua buku lainnya—di mana disebut-sebut sebagai bagian trilogy orientalism—adalah The Question of Palestine (1979) dan Covering Islam (1981).

Adapun beberapa karya penting Said yang lain di antaranya: The World, the Text and the Critic (1983), Culture and Imperialism (1993), The Last Sky: Palestine Lives (1986), Peace and Its Discontents (1995). Tak lupa juga, buku autobiografinya “Out of Place” yang diterbitkan pada tahun 1999.

Setelah terbitnya buku Orientalisme: Konsep Barat memandang Timur (1978), ketenaran Said lebih dikenali sebagai seorang ahli teori budaya dan intelektual publik yang mendukung perjuangan Palestina, di mana dari perjuangannya itu pula, ia dijuluki sebagai “an-Najmu as-Syarqi”–Bintang Timur.

Satu hal menarik dari sosok Edward Said yang  jarang diketahui adalah: bahwa Said gemar dan mempunyai pengetahuan yang mumpuni dalam bidang musik. Dia sangat piawai bermain piano, menulis kolom tentang musik, bahkan bersahabat karib dengan Daniel Barenboim—seorang pianis dan konduktor masyhur kewarganegaraan Israel itu.

Sebelum Orientalisme

Sebelum Said—dengan karya babonnya Orientalisme—ternyata beberapa pemikir telah menyinggung tentang penafsiran Timur yang dilakukan oleh Barat. Kritik Orientalisme itu dilancarkan sebagai wacana untuk menyingkap tirai kepalsuan. Dalam arti penafsiran Barat yang tidak berdasar, tendensius, dan cenderung egoistis.

Baca juga: Fazlur Rahman: Pembaharu Islam yang Melampaui Zaman

Dalam rentang tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, beberapa buku yang mengkaji representasi Islam dan Orient dalam teks-teks sastra dan budaya Barat diterbitkan. Semisal saja bukunya Norman Daniel “Islam and West: The Making of an Image” (1960) yang merekam pandangan negatif tentang Islam Timur Tengah dalam literatur Barat sejak abad pertengahan.

Daniel berpendapat bahwa citra negatif tersebut coba diuapkan ke permukaan dunia sebagai mekanisme pertahanan untuk menghadapi peradaban yang jauh lebih unggul daripada Eropa.

Kali lain, A. L Tibwai dalam bukunya “English Speaking Orientalism: A Critique of their Approach to Islam and Arab Nationalism” (1964) berbicara dengan sangat kritis terhadap ketergantungan orientalis modern pada citra abad pertengahan Islam.

Tibwai mengungkapan, orang Barat menerjemahkan tentang Timur sangat rasialis dan subjektif, dan mereka memapankannya dalam proyek literatur ilmu pengetahuan.

Tulisan mereka berbunyi, “Orientals as lacking tolerance, objectivity, courtesy continued to hold sway even in modern times.”

Seorang ilmuwan politik Mesir-Perancis, sekaligus seorang pan-Arabis, Anouar Abdel-Malek dalam artikelnya “Orientalism in Crisis,” (1963) mengecam proyek-proyek orientalis yang bagi Malek sendiri bertujuan untuk membuka jalan penaklukan kepada orang-orang Timur.

Sayed Hussain Al-‘Atas dalam penelitian sosiologisnya, “The Myth of the Lazy Native” (1977), berupaya menunjukkan bagaimana mitos orang Timur terus bertahan dalam penulisan orang Barat dan perlunya mengajukan argumen bahwa mitos semacam itu harus dibongkar.

Hichem Djait, Europe and Islam” yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab, diterbitkan dalam bahasa Prancis pada tahun 1978 dan dalam bahasa Inggris pada tahun 1985, mengkritik modernitas Barat sebagai perpanjangan dari Orientalisme yang berusaha membawa budaya non-Barat dalam lingkup gagasan kemanusiaan mereka sendiri.

Sebelum Orientalisme, Said sendiri telah menulis artikel seperti “Shattered Myths” (1975), “Arab, Islam and the Dogmas of the West” (1976), yang menentang keras terhadap persepsi Barat tentang Dunia Islam Arab.

Di atas semua karya ini, Edward Said membangun bangunan kritik metodologis bersifat objektif untuk menghasilkan buku Orientalisme yang moncer itu.

Sang Bintang Timur telah membuka mata dunia, mengungkap hubungan antara pengetahuan orientalis dan kekuatan kolonial yang bertujuan mendekonstruksi mitos-mitos palsu tentang Timur dengan definisi yang rasialis, diskrimintif, dan ahistoris.

Alumni Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Kini, tengah menempuh jurusan Kimia kebahagiaan, di Universitas Negeri Semarang.

About Muhammad Harir

Alumni Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Kini, tengah menempuh jurusan Kimia kebahagiaan, di Universitas Negeri Semarang.

View all posts by Muhammad Harir →