Emas Bukan Loyang

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu seorang teman yang pernah 12 tahun mengenyam pendidikan di kota Kairo, Mesir. Beliau bercerita kepada saya pernah bertemu dengan seorang yang unik namun ke‘alimanya serta kedalaman ilmunya lumayan dikenal di kota Kairo.

Suatu ketika ia bertemu dengan seorang yang ‘alim itu berpakaian amat sangat sederhana. Teman saya tidak habis pikir hingga bertanya kepada seorang yang ‘alim itu, “Ya Syech, mengapa orang seperti panjenengan mesti berpakaian apa adanya dan amat sangat sederhana? Bukankah di zaman yang seperti ini berpakaian dan penampilan sangat perlu apalagi di kota metropolitan seperti ini?”.

Dan sang ‘alim itu tidak menjawab namun hanya tersenyum, lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya dan berkata, “ Anak muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukanlah satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cobalah, tawarkan kepada pedagang kain, pedagang sayur maupun pedagang daging untuk membeli cincin ini seharga 500 Pon mesir (sekitar Rp 400.000).”

Melihat cincin yang kotor dan busem itu teman saya hanya kaget dan berkata, “500 Pon? Ah saya kok tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu ya Syech?”.

“Cobalah dulu sahabatku. Siapa tahu kamu berhasil,” jawab sang Alim.

Teman saya pun bergegas ke pasar. Ia tawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga yang ditawarkan. Mereka umumnya hanya menawar dengan separo dari harga yang ditawarkan.

Ahirnya ia kembali ke tempat semula dimana seorang yang ‘alim itu menunggu, “Ya Syech, tak seorang pun berani menawar lebih dari setengah harga yang saya tawarkan”. Sambil tetap tersenyum sang Syech berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian”.

Anak muda ini pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Setelah bertanya kepada penjual emas iapun kembali menemui Syech dengan raut wajah yang ceria. Ia kemudian menceritakan kepada seorang yang ‘alim itu, “Syech, ternyata saat saya bertanya ke para pedagang di pasar mereka tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini bahkan menganggap cincin kusam nan lusuh yang tidak layak dijual. Namun saat saya bertanya pedagang emas mereka malah menawarnya dengan harga seribu kali lipat dari harga 500 Pon. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar”.

Syech yang ‘alim inipun tersenyum simpul sambil berkata, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sahabatku. Seseorang tak boleh dinilai dari pakaiannya. Hanya para pedagang sayur, ikan, dan daging di pasar yang menilai demikian. Namun tidak bagi pedagang emas. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya dapat dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Dalam melihat hakikat seseorang diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Wahai sahabat mudaku, kita tak dapat menilai seseorang hanya dengan tutur kata dan sikapnya yang kita dengar dan lihat sekilas. Sebab seringkali banyak orang ‘bias’ dalam melihat, meyakini dan menilai seseorang. Banyak dari mereka mengira dan meyakini emas, eh ternyata loyang namun kadang yang kita lihat dan kita yakini hanya sebagai loyang, eh ternyata malah emas.”

Kampoeng Pitulikur, 9 Juli 2018

Nggedibal di Kampoeng Pitulikur

About Cholidien Qosiem

Nggedibal di Kampoeng Pitulikur

View all posts by Cholidien Qosiem →