Ketika Al-Jahizh Diledek karena Cinta kepada Buku

Suarr.id–Nama lengkapnya adalah Abu Utsman Amr bin Bahr bin Mahbub bin Fuzarah al-Laitsiy al-Kinaniy al-Bahsriy al-Jahizh. Ia lahir di Bashrah  tahun 163 H/776 M, tahun di mana pengaruh idelogi Muktazilah begitu kuat karena dijadikan sebagai ideologi resmi pemerintahan Abbasiyah masa itu. Mereka–Muktazilah–merupakan golongan yang menjadikan akal sebagai tumpuan keyakinannya.

Terkenal sebagai sastrawan kaliber pada masanya,  karya-karyanya melimpah ruah tembus angka ratusan . Dan di antara karya-karyanya itu, yang paling terkenal adalah Kitab al-Hayawan, Kitab al-Bayan wal Tabyin dan Kitab al-Bukhala’.

Melihat bilangan itu, tak diragukan lagi kalau al-Jahizh adalah seorang kutu buku dan pemabaca yang tekun. Bahkan, sangat mungkin jika kegiatan menulisnya justru lahir dari kecintaanya membaca. Dari kecintaanya itulah karya-karyanya beranak-pinak. Di samping kegemaran membaca, al-Jahizh juga memiliki gagasan yang sangat besar. Karena tanpa gagasan yang besar bacaan sebanyak apapun tak akan bermakna dengan sendirinya.

Baca juga: Adonis: Aku Dilahirkan untuk Puisi

Dalam khazanah sastra Arab klasik, kita akan menjumpai nama-nama kitab al-Jahizh seperti al-Bukhala’ (terdiri dua juz) dan al-Hayawan (terdiri delapan juz), yang belum tentu dikenali oleh pelajar sastra Arab.

Kitab al Hayawan

Seperti dilansir di BBC ber Bahasa Arab (1/03/ 2019); “Hampir 10 abad yang lalu, sebelum Darwin mencetuskan teori evolusinya, al-Jahizh telah dahulu menulis bukunya “al-Hayawan”, yang berisi bagaimana hewan berevolusi melalui seleksi alam”

Ingat, seribu tahun sebelum teori Darwin muncul!

Al-Jahidz dan Buku

Di dalam kitab Ussyaq al-Kutub karya Abdurrahman Yusuf Farhan, beliau menempatkan bab tersendiri yang khusus menyinggung al-Jahizh dan buku. Menarik memang. Bahkan untuk memulai bab ini, dijelaskan dulu menganai tingkatan cinta tertinggi, yaitu Isyq dengan menyitir ungkapan al-Jahizh.

Diriwayatkan oleh al-Mubarrid, ia mendengar al-Jahizh berkata, “Setiap ‘Isyq disebut Hubb, tetapi tidak setiap Hubb disebut ‘Isyq. Karena ‘Isyq adalah kata untuk sesuatu yang melebihi cinta(Mahabbah), sebagaimana kata Sarf untuk sesuatu yang melebihi kedermawanan (Jud), kata Jubn untuk sesuatu yang melebihi takut dan kecut, dan kata Hawaj untuk sesuatu yang melebihi keberanian (Syaja’ah).”

Kemudian Tsabit bin Qurrat al-Shabi’iy juga melempar pujian kepada al-Jahizh, “Di antara anugerah yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad Saw. adalah Umar bin Khattab dengan siasatnya, Hasan al-Basri dengan ilmunya dan al-Jahizh dengan karya Bayan wal-Tabyin-nya.”

Mengenai kecintaannya terhadap buku, Abu Haffan berkata; “Tak pernah kulihat pun kudengar, orang yang lebih mencintai buku dan ilmu daripada al-Jahizh. Kulihat ia tak pernah meletakkan bukunya sekalipun kecuali ia telah khatam dan kuasai semua isinya, bahkan ia mengetahui apa yang ada di dalam otak penulisnya. Saking cintanya sama buku sampai-sampai ia menyewa toko-toko penjual buku dan kertas untuk menelaah seluruh buku yang ada.”

Baca juga: Buya Hamka; Ulama Modernis dan Politikus Inklusif

Bila dulu pas zaman SMA, saya bersama kawan-kawan bersepakat untuk mengumpulkan semua buku bekas mulai kelas satu sampai kelas tiga untuk kemudian kami jual kiloan kepada tengkulak yang ada di sebelah sekolah.

Tetapi lain halnya dengan al-Jahizh, diriwayatkan Muhammad Sulaiman al-Jauhari; Suatu waktu ia–al-Jahizh– pergi bersama kawannya untuk mencari tempat hiburan seusai berpenat-penat beranggar pikiran. Sesampainya di depan pintu gerbang Universitas Bashrah, ada seorang wanita yang membawa potongan-potongan kertas menghampiri mereka.

Selayaknya kertas dan buku bekas yang sudah kucel bahkan sobek tak karuan, mana ada yang mau memanfaatkannya kecuali pengepul yang nantinya akan dibawa ke tempat pendaurulangan menjadi kertas lagi?.

Jika saya dan kawan-kawan menggantinya dengan rupiah, lain sikap dengan al-Jahizh, ia  masih tawar-menawar dengan wanita tersebut sementara kawannya telah meninggalkannya jauh di belakang. Tak habis pikir juga kawannya terhadap al-Jahizh. Setelah agak jauh berjalan dan tak ada tanda-tanda al-Jahizh menyusul, akhirnya kawannya memutuskan untuk berhenti dan menunggu al-Jahizh dari kejauhan.

Baca juga: Imam al-Ghazali, Kitab Ayyuhal Walad dan Nasihat untuk para Santri

Di tempat pemberhentian, kawannya masih bisa memandang apa yang dilakukan al-Jahizh dengan wanita tadi. Dilihatnya al-Jahizh sedang menimbang sesuatu lalu mengambil kertas-kertas tebal, dan kemudian dari tempatnya, al-Jahizh berteriak, “Tunggu aku..!”

Setelah menyusul kawannya, ia meminta untuk berhenti barang sebentar untuk mengembalikan nafasnya yang terengah-engah. Sambil memandang tumpukan kertas yang dibawa al-Jahizh, salah satu kawannya mengejeknya,

“Dengan tumpukan kertas begitu kau mendapat ilmu yang melimpah, wahai al-Jahizh, hahahaha..”

Kawannya lupa kepada siapa ia mengejek. Lalu al-Jahizh menjawabnya dengan mantap, “Kalian ini yang gila, demi Allah!, di dalam tumpukan kertas ini terdapat sesuatu yang tidak akan ditemukan kecuali hanya di dalamnya. Tetapi kalian terlalu bodoh untuk membedakan mana yang berharga dan mana yang tidak!”

Terakhir, al-Jahizh memiliki definisi sendiri untuk ‘buku’. Ia bilang, “Buku adalah wadah yang penuh dengan ilmu, yang melimpah dengan gurauan dan kesungguhan. Jika kau mau, ia bisa lebih jelas nan terang daripada awan putih yang berjalan. Jika kau mau, ia bisa lebih pelik daripada rambut kusut. Jika kau mau, kau akan terbahak karena humornya. Jika kau mau, kau akan takjub dengan keanehan tiap-tiap fragmennya. Jika kau mau, kau akan terbuai dengan keindahannya. Dan jika kau mau, kau akan menangis sedu karena nasihat-nasihatnya.”

Alumni Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Sekarang masih nyantri di Pesantren Al-Fattah, Kartasura

About Khoirul Athyabil Anwari

Alumni Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Sekarang masih nyantri di Pesantren Al-Fattah, Kartasura

View all posts by Khoirul Athyabil Anwari →