Macam-Macam Tanwin, Definisi, dan Contohnya

Salah satu tanda-tanda isim adalah tanwin. Mengurai bagian ini lebih jauh lagi, berikut ini penjelasan tentang macam-macam tanwin beserta keterangan dan contohnya.

1. Tanwin Tamkin
Disebut juga dengan tanwin shorfi dan tanwin amkaniyah, yaitu tanwin yang bertemu isim mu’rob yang munshorif, berfaidah menunjukkan ringannya isim dan menunjukan bahwa isim tersebut menetapi pada keisimannya (tidak serupa huruf sehingga dimabnikan dan tidak serupa fi’il sehingga dicegah dari tanwin). Contoh: رَجُلٌ، زَيْدٌ

2. Tanwin Tankir
yaitu tanwin yang bertemu dengan isim-isim yang mabni, yang berfaidah untuk membedakan antara ma’rifat dan nakirahnya lafadz. Contoh: جَاءَ سِيْبَوَيْهٍ

Jika ha’nya lafadz سِيْبَوَيْهٍ tidak ditanwin maka termasuk isim ma’rifat, maka yang dimaksud Sibaweh di sini bermakna yang khusus, misalkan Imam Sibaweh, seorang Ulama Nahwu. Adapun jika ha’ nya ditanwin maka ia termasuk isim nakiroh, dan yang dimaskud setiap orang yang bernama sibaweh.

3. Tanwin ‘Iwadl
Yaitu tanwin yang mengganti perkara lain, tanwin ‘iwadl dibagi menjadi 3 bagian;

a. Iwad anil jumlah
Yaitu tanwin lafadz إِذْ untuk mengganti jumlah setelahnya. Contoh: وَ أَنْتُمْ حِيْنَىِٔذٍ تَنْظُرُوْنَ
(Dan kamu semua ketika ruh sampai di tenggorokan, kalian semua akan sama memandangnya)
Tanwin pada lafadz إِذْ itu mengganti jumlah إذْ بَلَغَتِ الرُّوْحُ الْقُوْمَ yang dibuang untuk meringkas (ikhtisor) dan untuk memperindah (tahsin).

Baca juga: Imam Ibn Ajrum: Ulama Maroko di balik Kitab Jurumiyah

b. Iwad anil ismi
Yaitu, tanwin yang bertemu lafadz kulun dan sesama sebagai ganti dari mudhof ilaih.
Contoh: كُلٌّ قَاىِٔمٌ asalnya كُلُّ النَّاسِ قَاىِٔمٌ
بَعْضٌ قَاىِٔم  asalnya بَعْضُ النَّاسِ قَاىِٔمٌ

c. Iwad anil Harfi
Yaitu, tanwin yang bertemu sesama lafadz جَوَارٍ dan غَوَاشٍ dalam tingkah rafa’ dan jar.

Tanbih; Proses pengi’lalan lafadz keduanya

Mengikuti qaul rojih yang mendahulukan i’lal dari tercegahnya tanwin (man’u shorfi). Kedua lafadz itu asalnya جَوَارِيٌّ dan غَوَاشِيٌّ (dengan memakai ya’ dan tanwin), huruf ya’ dimatikan karena berat menyandang harakat dhummah. Kemudian ya’ dimatikan karena terjadi bertemunya dua huruf mati,  yaitu ya’ dan tanwin. Maka menjadi جَوَارٌ (dengan masih adanya tanwin setelah ro’), dan sudah maklum bahwa tanwin ini adalah tanwin tamkin/tanwin shorfi.

Sedang huruf ya’ yang dibuang karena ada sebab itu hukumnya seperti huruf yang masih tetap. Selanjutnya karena shigotnya muntahal jumu’ yang tidak memperbolehkan berkumpul dengan tanwin shorfi, maka tanwinya dibuang maka menjadi جَوَارِ (tanpa tanwin), kemudian terjadi kekhawatiran jika kasrohnya ro’ isba’ (panjang) akan menimbulkan huruf ya’ setelah dibuang, yang hal itu akan menimbulkan berat, maka ditambahkan tanwin sebagai ganti dari ya’ yang dibuang dan tanwin yang wujud setelah prmbuangan tanwin ini adalah tanwin iwadl menjadi جَوَارٍ.

Baca juga: Disuruh Kasroh kok Malah Pecahkan Botol

Mengikuti qaul marjuh, berpendapat bahwa tercegahnya tanwin itu didahulukan dari i’lal. Kedua lafadz itu asalanya جَوَارِي dan غَوَاشِيْ (tanpa tanwin), ya’ di sukun karena berat menyandang harokat dhummah, kemudian didatangkan tanwin sebagai ganti dari dhummah, maka menjadi جَوَارِي, kemudian ya’ dibuang karena bertemunua dua huruf yang mati, menjadi جَوَارٍ, jika mengikuti qaul ini maka tanwinya adalah tanwin iwadl dari harakat fhummah yang didatangkan sebagai perantaran membuangan ya’, bukan tanwin iwadl anil harfi.

4. tanwin Muqobalah
Yaitu tanwin yang bertemu jama’ muannas salim sebagia perbandingan dari nun yang adapada jamak mudzakar salim. Contoh: مُسْلِمَاتٌ
Tanwin pada lafadz ini sebagai bandingan dari nun yang ada pada lafdz مُسْلِمُوْنَ.

5. Tanwin dhoruroh
Yaitu tanwin yang bertemu munada (lafadz yang dipanggil) yang mabni, baik rafa’ atau nashab.
Contoh:
Mabni rafa’: سَلاَمُ اللّٰهِ يَا مَطَرٌ عَلَيْهَا * وَ لَيْسَ عَلَيْكَ يَا مَطَرُ السَّلَامُ
Mabni nashab: يَاعَدَيًّا لَقَدْ وَقَتْكَ الَّاوَاقِي

6. Tanwin Ziyadah
Dinamakan juga tanwin munasabah, yaitu tanwin yang bertemu ism ghairu munshorif dengan tujuan untuk penyerasian.

Contoh: Bacaan Imam Nafi’ سَلَاسِلًا واغْلًالًا, dengan membaca tanwin pada lafadz سَلَاسِلًا, –padahal berupa shigot muntahal jumu’ yang tidak bisa menerima tanwin—hal ini bertujuan untuk menyerasikan dengan lafadz stelahnya.

7. Tanwin Taksir
Dinamakan juga tanwin Hamzi yaitu tanwin yang bertemu dengan sebagian isim yang mabni berfaidah menunjukan makna banyak. Contoh: هَؤُلَاءٍ قَوْمُكَ.

Baca juga: Pengemis yang Pandai Nahwu

8. Tanwin taronnum
Yaitu tanwin yang bertemu qofiyah—akhir bait—yang diucapkan karena bertemu huruf ilat.
Contoh; أَقِلًّى اللَّوْمَ عَادِلْ وَالْعِتَابَنْ * وَ قُوْلِيْ إِنْ أَصَبَتْ لَقَدْ أَصَابَنْ

 “Wahai wanita pencela, tinggalkanlah perbuatan mencela (karena aku tidaka akan mendengarkan pada sesuatu yang kau inginkan) yang terbaik bagimu adalah mengakui kebenaran sesuatu yang aku lakukan.”

Lafadz العِتَابَنْ dan أَصَابَنْ asalanya العِتَابَا dan أصَابَا kemudian alif dignbti tanwin untuk mrninggalkan taronnum (membaguskan dan meliuk-liuknya suara)

9. Tanwin Gholi
Yaitu tanwin yang bertemu Qofiyah Al-Muqoyyad (akhir bait yang hurufnya berupa huruf shohih yang mati)
Contoh: وَ قَاىِٔمِ الأَعْمَقِ خَاوِي المُحتَرقَنْ * مُشْتَبِهِ الأَعْلاَمِ لَمَّاعِ الخَفْقَنْ

“Banyak sekali tempat yang tak seorang pun bisa menempuhnya karena banyak keserupaan dan tidak jelasnya. Namun untaku mampu menempuh dan menemukannya.” (Ru’bah bij Ujaj)

Maksudnya ia seorang pemberani atau ia orang yang sangat mengerti dan tahu menahu tentang gurun pasir)

المحترقَنْ asalanya المحتَرقْ kemudian dimasuki nunli wazni untuk menyesuaikan wazan, lalu memberi harokat qaf supaya selamat dari bertemunnya dua huruf mati.

Peringatan!
Tidak semua tanwin bisa masuk pada kalimah isim, Ulama sepakat ada empat tanwin yang khusus masuk di kalimah isim, yaitu; tanwin tamkin, muqobalah, ‘Iwadl dan tankir. Sedangkan tiga tanwin lagi, yaitu tanwin dhoruroh, ziyadah, taksir, masih diperdebatkan oleh para ulama, dalam hal ini kekhususannya masuk pada isim. Namun qaul yang rojih, tiga tanwin tersebut masuk pada khusus pada kalimah isim, sedangkan tanwin Gholi dan Taronnum menurut pendapar yang rojih bisa masuk pada kalimah isim, fiil dan huruf.

Tim redaksi Suarr.id

About Redaksi

Tim redaksi Suarr.id

View all posts by Redaksi →