Masalah

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya saat ini kita hidup di zaman yang terasa penuh dengan masalah. Yang ada dalam pikiran kita adalah masalah terasa jauh lebih rumit ketimbang pada saat zaman mbah-mbah kita dulu. Padahal kian hari kian banyak teknologi yang dikembangkan untuk keperluan mempermudah masalah manusia. Namun seiring dengan berkembangnya kecanggihan teknologi, problem yang kita hadapi pun terasa ikut-ikutan canggih.

Seorang teman pernah bercerita kepada saya, dan dia mengisahkan tentang proses bermetamorfosanya kepompong menjadi kupu-kupu. Dia bercerita, “ada seorang anak yang sedang bermain di halaman rumah dan menemukan kepompong  kupu-kupu di sebuah dahan rendah yang rimbun. Diambilnya kepompong tersebut dan dia melihat ada lubang kecil disana.

Diamatinya lekat-lekat lubang kecil itu dan betapa tertegunnya ia ketika melihat ada seekor kupu-kupu yang sedang berjuang untuk keluar membebaskan diri dari belenggu melalui lubang itu. Tupu-kupu itu nampak putus asa, dia sudah berusaha sekuat mungkin namun tak kunjung berhasil keluar melalui dari lubang kepompongnya.

Melihat fenomena itu, si anak menjadi iba dan berpikir untuk membantu si kupu-kupu untuk keluar dari kepompongnya. Dia pun mengambil gunting dan mulai membuka badan kepompong agar kupu-kupu bisa keluar dan terbang dengan leluasa.

Begitu kepompong terbuka, kupu-kupu pun keluar dengan mudahnya. Akan tetapi, ia masih memiliki tubuh gembung dan kecil. Sayap-sayapnya terlihat masih berkerut. Anak itu kembali mengamatinya lebih seksama, sembari harap-harap cemas sayap kupu-kupu tersebut dapat berkembang dan bisa membawanya terbang.

Harapan tinggal harapan, apa yang ditunggu-tunggu tak jua tiba. Kupu-kupu itu masih tetap merangkak di sekitar dahan dengan tubuh gembung dan sayap yang berkerut, tidak bisa berkembang sempurna layaknya teman-temannya. Pada akhirnya kupu-kupu itu harus menerima nasib bahwa ia tidak akan mampu terbang seumur hidupnya.

Si anak tadi rupanya belum memahami benar bahwa kupu-kupu harus berjuang dengan usahanya sendiri untuk membebaskan dirinya dari kepompong yang membelenggunya. Lubang kecil pada ujung kepompong bukanlah penghalang, itu adalah mekanisme alam yang diciptakan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu terdorong masuk ke dalam sayap sehingga dapat berkembang dengan sempurna dan siap untuk terbang mengarungi kebebasan…”

Bisa jadi seperti itulah gambaran masalah yang kita hadapi sehari-hari. Masalah ada bukan untuk kita hindari, melainkan kita hadapi. Banyak orang bijak mengatakan “Dengan masalah lah kita bisa belajar untuk menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih bijak”.

Allah membuat masalah untuk kita pasti ada hikmahnya. Dan pasti selalu ada kebaikan di balik semua masalah. Masalah memang kelihatannya mengganggu, namun ternyata harus selalu ada dalam hidup kita. Agar kita bisa terus berkembang sepanjang hidup ini dengan belajar mengambil hikmah dari setiap masalah yang kita hadapi.

Kampoeng Pitulikur, 11 Juli 2018.

Nggedibal di Kampoeng Pitulikur

About Cholidien Qosiem

Nggedibal di Kampoeng Pitulikur

View all posts by Cholidien Qosiem →