Mengenal Sab’atu Rijal (2): Tujuh Waliyullah Kota Marakesh, Maroko

Suarr.id–Pada postingan sebelumnya, kita telah mengenal 3 waliyullah Maroko yang tergolong Sab’atu Rijal pada bagian satu. Mari kita lanjutkan ziarah perkenalan ini ke bagian dua dengan 4 waliyullah selanjutnya.

4. Sidi Imam Abu Abbas As-Sibty (w. 601 H)

Sidi Imam Abu Abbas As-Sibty adalah ulama yang lahir di akhir masa-masa dinasti Murabithun. Sama seperti Imam Qadi Iyadh, beliau berasal dari daerah Sebta dan lahir pada tahun 521 H. Waliyullah yang bernama lengkap Abu Abbas Ahmad ibn Ja’far As-Sibty ini adalah ulama yang masyhur sekali dengan kezuhudannya.

Dalam kitab Al-Muthrib karangan Syeikh Abdullah At-Talidiy (w. 1439 H), digambarkan bahwa perawakan beliau itu berwajah tampan, berpenampilan harum dan bersih, serta suka memakai pakain berwarna putih. Kehidupan beliau sangatlah sederhana. Bahkan dalam mengajar, beliau tidak pernah mengambil sepeser pun bayaran untuk dirinya.

Selain kehidupan yang penuh kesederhanaan, imam Abu Abbas As-Sibty mempunyai jiwa welas asih yang besar, giat bersadaqah terhadap fakir-miskin, dan selalu menolong siapapun yang membutuhkan. Sebuah riwayat yang masyhur  dalam kitab At-Tasyuf fi Rijali Tasawuf menyebutkan bahwa karena sifatnya yang begitu mulia, beliau mempunyai karomah yaitu doanya yang selalu diijabah oleh Allah SWT.

Baca juga: Imam al-Ghazali, Kitab Ayyuhal Walad dan Nasihat untuk para Santri

Imam Abu Abbas As-Sibty wafat pada tahun 601 H di kota Marakesh. Banyak orang yang meyakini bahwa tempat beliau dimakamkan adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Bahkan saat penulis berziarah ke makamnya, bukan hanya orang islam yang berdoa disana,  beberapa non muslim pun melakukannya. Waallahu A’lam.

5. Imam Sulaiman Al-Jazuly (w. 870 H)

Dari ketujuh waliyullah anggota Sab’atu Rijal, dapat dikatakan bahwa Imam Sulaiman Al-Jazuly adalah yang paling masyhur di kalangan masyarakat Indonesia. Ya, beliau adalah penyusun kitab monumental Dalailul Khairat.

Imam Sulaiman Al-Jazuly bernama lengkap Muhammad ibn Abdirahman ibn Abi Bakar ibn Sulaiman ibn Daud ibn Basyir Al-Jazuly. Lahir pada tahun 807 H di daerah dan suku yang bernama Jazula, suatu suku dari etnik Berber di kota Sous, selatan Marakesh, beliau merupakan Sufi terkemuka dan berpengaruh yang hidup pada masa dinasti Marini.

Baca juga: Terusan Suez: Dari Ambisi hingga Perang

Imam Sulaiman Al-Jazuliy atau Imam Al-Jazuliy besar dan tumbuh serta belajar di kota kelahirannya, Jazula. Kemudian beliau pergi ke Fez untuk lebih mendalami ilmu agama. Dalam perjalanan ilmiahnya di kota ini, beliau tercatat sebagai orang yang mendalami ilmu fiqh, khususnya fiqh maliki. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat, beliau adalah orang yang hafal kitab Al-Mudawanah.

Namun di kemudian hari, Imam Al-Jazuliy memilih untuk hidup zuhud, mengasingkan dirinya dari khalayak umum dan mengisi hari-harinya dengan bershalawat kepada nabi Muhammad SAW. Sampai suatu hari beliau bertemu dengan Syeikh Amghar As-Shagir, seorang sufi besar di negri Maghrib saat itu. Maka bergurulah imam Al-Jazuliy kepadanya sampai 14 tahun lamanya. Beliau menerima ajaran thariqah lewat gurunya ini. Imam Al-Jazuliy tidak keluar dari mulazamah dan berkhalwat sampai ia diperintah oleh gurunya.

Kema’rifatan Imam Al-Jazuliy semakin lama semakin bersinar. Nama beliau semakin harum dan kearifan beliau semakin menyebar ke semua wilayah di negri Maghrib. Di kenal sebagai orang yang tinggi dengan ilmu dan amal, Imam Al-Jazuliy senantiasa berhias dengan akhlak yang mulia, terpuji, dan menapaki jalan kasih sayang serta senantiasa berzikir dan bershalawat kepada junjungan alam, nabi Muhammad SAW.

Dalailul khairat adalah salah satu karya fenomenal dari Imam Al-Jazuliy. Dicetak dan diamalkan di penjuru dunia. Hal ini disebabkan karena ajaran beliau yang begitu santun disebarkan oleh 12 ribuan muridnya yang belajar langsung dari beliau.

Dikisahkan, sebab utama penulisan kitab Dalailul khairat adalah pertemuannya dengan perempuan kecil yang begitu bersinar karomahnya. Imam Al-Jazuliy pun bertanya bagaimana caranya mendapatkan kemuliaan tersebut. Perempuan itu menjawab, semua keutamaan yang ia dapatkan tak lain karena sering dan banyaknya ia bershalawat kepada baginda Rasulullah SAW. Maka dari sana beliau beri’tikad untuk menyusun kitab khusus kumpulan shalawat untuk baginda Rasulullah. Maka jadilah kitab Dalailul Khairat.

Shollu ala Nabi Muhammad.

6.  Sidi Imam Abdul Azis At-Tabba’

Sidi Imam Abdul Azis At-Tabba’ adalah salah satu murid utama dari Imam Sulaiman Al-Jazuliy. Beliau berguru, berkhidmat, dan bermulazamah kepada gurunya. sampai disebut bahwa Imam At-Tabba’ adalah penerus utama dari gurunya di kota Marakesh. Kedudukan Imam At-Tabba’ Ini sangat berpengaruh di kalangan masyarakat kota Marakesh, terbukti dengan digolongkannya beliau ke dalam tujuh wali masyhur Maroko yang ada di Marakesh.

Sidi Imam Abdul Azis At-Tabba’ ini bernama lengkap Abdul Azis ibn Abdul Haq Al-Marakushi Al-Harrar. Al-Marakushi dinisbahkan ke kota kelahirannya yaitu kota Marakesh. Sedangkan Al-Harrar dinisbahkan kepada kain sutra karena beliau dulu adalah pembuat kain sutra.

Sejak kecil Imam At-Tabba’ belajar dan mencari ilmu di kota kelahirannya, Marakesh, sampai akhirnya bertemu dengan Imam Al-Jazuliy dan belajar kepadanya. Kesungguhannya dalam belajar mengangkat derajat beliau sampai disematkan julukan syaikhul alim oleh masyarakat Maroko.

Sidi Imam Abdul Azis At-Tabba’ ini dikenal sebagai sufi pertama yang mengajak para pengikutnya untuk memperhatikan, memelihara, dan memanfaatkan tanah. Beliau mendirikan zawiyah di kota Marakesh yang kebanyakan dari pengikutnya adalah petani dan wiraswasta. Beliau menyulap zawiyah bukan hanya untuk tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat ruang amal, ruang kebudayaan, dan ruang pembangkit ekonomi sosial masyarakat.

Baca juga: Abu Yusuf Al-Alma’i: Ulama yang Lebih Memilih Mengaji walau Anaknya Meninggal Dunia

Zawiyah yang beliau dirikan ini mashur dengan sebutan Zawiyah Jazuliyah Tabba’iyah, dan tercatat memiliki 1200 orang murid. Murid yang paling terkenal serta secara khusus tercatat sebagai pewaris  ajaran serta perjuangan beliau adalah sidi Abdilah Al-Ghazwaniy atau yang disebut dengan Maulay Qushur.

Sidi Imam Abdul Azis At-Taba’ ini wafat pada tahun 914 H atau 1509 M. Beliau dimakamkan di kawasan Tsalast Fuhul, Kota Marakesh.

7. Sidi Abdillah Al-Ghazwaniy (w. 935 H)

Jika sebelumnya kita menziarahi sidi Abdul Azis yang berjulukan syaikhul ‘alim, maka sekarang kita ziarahi waliyullah yang berjulukan syaikhul masyaikh, sekaligus penutup dari ketujuh waliyullah kota Marakesh, Maroko, yaitu Sidi Abdillah Al-Ghazwaniy.

Sidi Abdillah Al-Ghazwaniy ini lahir di kota Marakesh. Al-Ghazwaniy adalah nisbah yang disematkan ke beliau karena berasal dari suku Ghazwan, salah satu suku Arab yang ada di Maroko.

Baca juga: Sejarah Penggunaan Keran, Simbol Keterbukaan Islam

Beliau adalah seorang sufi karismatik sekaligus terkenal sebagai seorang insyhur handal. Sidi Abdillah Al Ghazwany memulai rihlah ilmiahnya di kota Fez. Fez merupakan sebuah kota tua dan salah satu kota peradaban yang terkenal sebagai kota para ilmuan. Beliau masuk di Madrasah Al Wady dan hidup bersama Syekh Aby Hasan Ali bin Soleh Al Andalusy. Al Ghozwany belajar bersama Syekh Hasan Ali cukup lama, dikisahkan sampai akhir hayat sang guru.

Sepeninggal Syekh Hasan, beliau kembali ke kota asalnya, Marakesh, untuk berguru kepada Syekh Abdul Aziz At-Tabba’. Beliau belajar kepadanya sekitar sepuluh tahun. Selama belajar, beliau sangat rajin melebihi teman–temannya sehingga menguasai berbagai bidang ilmu seperti hadits, fikih, tafsir, tasawuf dan lainnya.

Sidi Abdillah Al Ghozwany terkenal dengan kecerdasannya sehingga beliau diperintah mendirikan zawiyah dan mengajar dengan kepiawaian beliau. Keikhlasannya dalam berkhidmah kepada gurunya membuat Imam Al Ghozwany mendapat banyak keberkahan, sehingga banyak yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Diantara murid – muridnya yang terkenal ialah Syekh Abdul Karim Al Fallah, Syekh Rehaul Kusyi, Syekh Ali bin Ibrohim, Syekh Said bin Mun’im, Abu Muhammad Abdulloh bin Sasy (pendiri zawiyah di tepi lembah Marakesh) 961 H, Sayyid Abdulloh bin Husain Al Amgory 976 H (pendiri zawiyah di Balsamloat)

Beliau wafat pada tahun 935 H dalam sebuah perjalanan pulang mengunjungi penduduk pedesaan. Mengunjungi penduduk desa adalah kebiaasan yang  beliau. Beliau dimakamkan di pusaran sebuah istana (qushur), maka dari itu beliau terkenal dengan sebutan Maulay Qushur.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Alumni Pesantren Daarul Uluum Lido  2017 dan Delegasi PBNU yang sedang nyantri di Institute Imam Malik, Tetouan, Maroko.

About Khoirul Ibad

Alumni Pesantren Daarul Uluum Lido  2017 dan Delegasi PBNU yang sedang nyantri di Institute Imam Malik, Tetouan, Maroko.

View all posts by Khoirul Ibad →