Ngaji Jurumiyah (2): Isim, Fi’il, dan Huruf

Setelah kemarin kita telah mengetahui tentang apa itu Kalam (baca: Ngaji Jurumiyah: Kalam (1)) yang merupakan struktur dasar dari bahasa Arab, sekarang kita akan mengulas lebih jauh tentang pembagian Kalam yang jumlahnya ada 3, yaitu: Isim, Fi’il, dan Huruf.

واقسمه ثلثة اسم وفعل وحرف جاء لمعنى

Perlu diketahui bahwa pembagian kata pada bahasa Arab sedikit berbeda dengan pembagian kata pada bahasa Inggris. Jika dalam bahasa Inggris pembagiannya adalah noun (kata benda), verb (kata kerja), adjective (kata sifat), dan beberapa jenis kata yang total jumlahnya ada 9 itu, maka pada bahasa Arab pembagiannya secara garis besar hanya ada 3 (meskipun nantinya setiap kategori ini memiliki anak kategorinya masing-masing), yaitu: isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan huruf (kata hubung). Adjective dalam sistem tata bahasa Arab ikut dikategorikan ke dalam Isim.

Untuk diketahui, dari ketiga jenis kata ini kesemuanya memiliki ciri masing-masing agar dapat dibedakan. Berikut ciri-ciri isim, fi’il, dan huruf:

  1. Isim (noun/kata benda)
فالاسم يعرف بالخفض ولتنوين ودخول الالف واللام وحروف الخفض

Isim secara garis besar bisa diartikan sebagai kata benda (kata sifat juga termasuk ke dalam isim), namun dalam pengertian yang lain isim diartikan sebagai kata yang pada dirinya sendiri mengandung arti tetapi tidak disandarkan pada waktu.

Contoh: زيد ـ انا ـ هذا

Tanda-tanda untuk dapat mengetahui apakah kata tersebut termasuk isim atau bukan ada 4 tanda, yaitu:

  • Bisa di-jer-kan

Suatu kata bisa dibaca jer karena beberapa sebab, yang paling banyak biasanya karena kemasukan huruf jer atau karena idlofah (gabungan kata).

Contoh:

  1. مَرَرْتُ بِزَيدٍ (Saya berpapasan dengan Zaid)
  2. بَيْتُ زَيدٍ (Rumahnya Zaid)

Pada kedua contoh diatas, kata Zaid merupakan isim. Contoh (a.) merupakan contoh kata yang dibaja jer karena kemasukan huruf jer yaitu بِ. Jadi kata Zaid termasuk isim karena bisa dijerkan. Sedangkan contoh (b.) merupakan contoh kata yang dibaca jer karena idlofah. Kata Zaid dibaca jer karena berkedudukan sebagai mudlof ilaih. Jadi kata Zaid termasuk kategori isim.

  • Adanya tanwin

Jika suatu kata mengandung tanwin, maka sudah bisa dipastikan kata tersebut merupakan isim.

Contoh: زَيدٌ ـ رَجُلٌ

  • Kemasukan alif dan lam (baca: al)

Sama seperti tanwin, jika suatu kata mengandung al maka sudah dapat dipastikan kata tersebut merupakan isim.

Contoh: اَلرَّجُلُ (seorang laki-laki)

Perlu diketahui bahwa al dan tanwin merupakan penanda isim yang sifatnya saling menegasikan. Jadi jika sudah ada al maka tidak boleh ada tanwin, dan sebaliknya, jika sudah ada tanwin maka tidak boleh ada al.

  • Kemasukan huruf jer

Contoh: مَرَرْتُ بِزَيْدٍ (saya berpapasan dengan Zaid)

Kata Zaid diatas merupakan isim karena kemasukan huruf jer بِ.

Dalam kitab Jurumiyah ini huruf jer disebutkan ada 12, yaitu:

وهى من والى وعن وعلى وفي ورب والباء والكاف واللام وحروف القسم وهى الواو والباء والتاء

Huruf jer sebenarnya jumlahnya banyak, tidak hanya berjumlah 12 seperti yang disebutkan diatas. Dalam referensi lain misalnya pada nadlom Alfiyah yang diadopsi juga ke dalam metode Amtsilati, menyebutkan bahwa huruf jer ada 20:

هَاكَ حُرُوفَ الْجَرِّ وَهْيَ مِنْ إلىَ # حَتَّى خَلا حَاشَا عَدَا في عَنْ عَلَى

مُذْ مُنْذُ رُبَّ اللّامُ كَيْ وَاوٌ وَتَا # وَالكَافُ وَالْبَا وَلَعَلَّ وَمَتَى

Huruf jer iku rupane min lan ila  # hatta khola hasya ‘ada fi ‘an ‘ala

Mudz mundzu rubba lam lan kay wawu lan ta’ # ugo kaf lan ba’ lan la’alla lan mata

  1. Fi’il (verb/kata kerja)
والفعل يعرف بقد والسين والتاء التأنيث الساكنة

Fi’il dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai kata kerja, namun dalam pengertian yang lain fi’il diartikan sebagai kata yang pada dirinya sendiri mengandung arti dan padanya disandarkan pada waktu: lampau (past), kini (present), dan yang akan datang (future).

Contoh:   ضرب ـ يضرب ـ إضرب

Tanda-tanda untuk dapat mengetahui apakah kata tersebut termasuk fi’il atau bukan ada 3 tanda, yaitu:

  • Bisa kemasukan qod (sungguh)

Qod ini bisa masuk ke dalam fi’il madli maupun fi’il mudlori’.

Contoh:قد قام   (sungguh telah berdiri), قد يقوم (kadang-kadang​ berdiri)

Baca Juga: Unen Unen Jowo dan Hubungannya dengan Kaidah Balaghoh

  • Bisa kemasukan sin tanfis (hendak/akan)

Sin tanfis hanya bisa masuk ke dalam fi’il mudlori’.

Contoh: سيقوم

  • Bisa kemasukan saufa taswif (hendak/akan)

Saufa taswif hanya bisa masuk ke dalam fi’il mudlori.

Contoh: سوف يقوم

Antara sin tanfis dan saufa taswif sebenarnya maknanya sama yaitu hendak/akan. Perbedaannya adalah pada kadar waktunya dimana pada sin tanfis zaman mustaqbalnya (akannya) lebih sedikit daripada zaman mustaqbalnya (akannya) saufa, karena banyaknya huruf menunjukkan banyaknya makna. Mudahnya, sin tanfis menunjukkan bahwa kejadiannya sudah hampir terjadi, sedangkan saufa kejadiannya masih lama.

  • Bisa kemasukan ta’ ta’nits (ta’ yang menunjukkan makna mu’annats)

Ta’ ta’nits hanya bisa masuk ke dalam fi’il madli.

Contoh: قامت (telah berdiri -seorang perempuan-)

  1. Huruf (conjunction/kata hubung)
والحرف ما لا يصلح معه دليل الاسم ولا دليل الفعل

Huruf dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai kata hubung, namun dalam pengertian yang lain huruf diartikan sebagai kata yang mengandung arti (dapat dipahami maknanya) jika digabung dengan kata lain. Dengan demikian, kata ini tidak akan memiliki makna tertentu, kecuali disandarkan pada kata-kata lain.

Contoh: الى  ـ لم

Jika untuk mengetahui isim dan fi’il terdapat tanda-tanda yang menyertainya, maka untuk mengetahui huruf adalah sebaliknya, yaitu dengan tidak adanya tanda-tanda isim dan fi’il. Dengan kata lain, jika suatu kata bukan merupakan isim maupun fi’il, maka sudah dapat dipastikan kata tersebut merupakan huruf.

 

NB. Kami sangat terbuka dengan kritik dan saran yang membangun, jika ada masukan untuk materi atau konten dalam halaman ini kami akan sangat berterimakasih.

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Penikmat tempe yang pernah bercita-cita jadi wartawan partikelir.

About Imam S. Zahri

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Penikmat tempe yang pernah bercita-cita jadi wartawan partikelir.

View all posts by Imam S. Zahri →