Pendengki dan Akibatnya pada Keturunan

Dalam kitab Ta’līmul Muta’allim diajarkan, bila ingin berketurunan baik, orang tua harus mengakses rasa bahagia dengan pelaku kebaikan.

Misal ia ingin punya anak menjadi ahli ilmu atau ingin punya anak menjadi pemusik, maka ia harus sepenuh hati mengakses kebahagiaan dengan si ahli ilmu atau dengan pemusik tersebut. Dan akses bahagia ini harus diaplikasikan dengan rasa cinta sepenuh hati kepada mereka. Mulai dari bershodaqoh, memasang foto-fotonya, bahkan menyerahkan si anak untuk menjadi muridnya.

Dua tahun yang lalu, saya mendapat telfon dari seorang kiai yang amat saya hormati. Saat itu beliau bercerita yang intinya menasehati saya agar sebisa mungkin menghilangkan sifat iri maupun dengki kepada orang baik.

Beliau menceritakan, dulu ada kisah seorang ulama di Cilacap yang ternyata kakeknya adalah seorang seniman kuda lumping. Dan kekek seorang ulama’ ini juga belum sholat hingga akhir hayatnya. Tetapi si kakek ini sangat bahagia bila dekat dengan para kiai, dan ia sangat mencintai sosok kiai.

Suatu ketika ada pesantren di daerah Banyumas yang mengalami paceklik di masa penjajahan Belanda, lalu tanpa segan, si kakek ini menyerahkan 2 lumbung padi miliknya untuk membantu pesantren tersebut. Dan cita-citanya hanya satu, ingin punya keturunan menjadi ahli ibadah. Setelah itu, beliau terus menerus ikut membantu pesantren dalam pembangunan dan yang lainnya. Hasilnya, anak dan cucu-cucunya sampai sekarang menjadi ulama besar.

Setelah beliau mengisahkan cerita diatas beliau berpesan, “bila kita sudah menjadi santri, namun kita belum bisa mengakses rasa bahagia dengan pelaku kebaikan, karena bisa jadi kita merasa lebih baik, atau merasa lebih alim darinya. Artinya, kita tidak merasa nyaman dan atau mendengki padanya, atau merasa susah dan tersaingi atas kehadirannya, maka bisa jadi keturunan kita yang terkena imbas buruknya.”

Beliau juga menceritakan kembali dulu di daerah Magelang, ada seorang ulama muda yang baru naik daun, dan kebetulan ia punya tetangga yang sangat alim ilmu hadits. Konon tetangganya ini hafal kitab Shohīh Al-Bukhori, tetapi ia berusaha menghabisi karir si ulama muda ini. Beliau sekalipun ahli ilmu dan hafal ribuan hadits namun tidak bisa mengakses rasa bahagia dengan kehadiran ahli ilmu lainya.

Pada akhirnya keturunan ahli hadits yang pendengki ini menjadi orang-orang yang tidak berkualitas. Anak-anaknya menjadi orang-orang miskin, lemah dan bodoh. Kedengkianya menghabisi kebaikan anak cucunya.

Intinya, nasehat beliau kepada kita yang saya tulis diatas adalah, apapun wujud pendengki, hakikatnya, ia adalah orang yang tidak bisa mengakses rasa bahagia atas wujud kebaikan yang ditampilkan oleh orang lain. Dan resikonya akan berimbas pada kualitas keturunan kita.

Alhasil, bila kita ingin berlimpah baik untuk diri sendiri hingga anak cucu kita, maka berbahagialah dengan kebaikan yang diwujudkan oleh orang lain. Usahakan dengan sepenuh hati untuk menghadirkan rasa senang atas wujud kebaikan yang timbul dari orang lain.

Kampoeng Pitulikur

Nggedibal di Kampoeng Pitulikur

About Cholidien Qosiem

Nggedibal di Kampoeng Pitulikur

View all posts by Cholidien Qosiem →