Pengemis yang Pandai Nahwu

Salah seorang ahli nahwu bercerita:

Aku pernah melihat seorang buta sedang meminta-minta kepada orang-orang.

Pengemis itu berkata:

ضَعِيْفًا مِسْكِيْنًا فَقِيْرًا

“Orang lemah, miskin dan fakir”

Aku dibuat penasaran oleh kata-katanya. Kutanyakan padanya, “Mengapa kamu  me-nashab-kan (membaca fathah) ucapanmu ضَعِيْفًا مِسْكِيْنًا فَقِيْرًا ?”

Dia menjawab, “Aku baca fathah dengan menyembunyikan kata kerjanya.”

Kata kerja yang dimaksudkannya adalah lafal اِرْحَمُوْا (kasihanilah!).

Jawaban yang cerdas, pikirku. Tidak perlu menunggu lama, aku keluarkan semua uang yang ada padaku lalu kuserahkan padanya karena senang dengan apa yang barusan pengemis buta itu katakan.

Penjelasan:

Pola dasar kalimat di atas adalah:

 اِرْحَمُوْاضَعِيْفًا مِسْكِيْنًا فَقِيْرًا 

“Kasihanilah orang lemah, miskin dan fakir!”

Kemudian, kata kerjanya disembunyikan sehingga tinggal apa yang seperti diucapkan pengemis tadi. Sebagai tanda kata kerjanya dihapus, si pengemis tadi membacanya dengan fathah: Dha’îfan miskînan faqîran.

Pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa, Konsentrasi As-Sohafiy (Kewartawanan), Universitas Al Azhar, Mesir. Sekarang bekerja sebagai Guru dan penerjemah buku-buku berbahasa Arab.

About Abdul Majid

Pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa, Konsentrasi As-Sohafiy (Kewartawanan), Universitas Al Azhar, Mesir. Sekarang bekerja sebagai Guru dan penerjemah buku-buku berbahasa Arab.

View all posts by Abdul Majid →

One Comment on “Pengemis yang Pandai Nahwu”

Comments are closed.