Pesan Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili tentang Ketaatan

Suarr.id–Jika Allah hendak memuliakan seorang hamba dalam gerakan dan diamnya, maka Allah akan mengangkatnya​ menjadi orang yang suka beribadah kepada-Nya. Allah tutup hamba tersebut dari kepuasan nafsu dirinya sendiri, dan Dia jadikan hamba itu asyik di dalam ibadahnya. Kepuasan dan keinginan nafsu atas dirinya ditutup oleh Allah kecuali sebatas kecukupan untuk dirinya, bahkan sang hamba tidak terlalu melirik kepuasan nafsunya seolah-olah ia sibuk dalam keterasingan.

Namun sebaliknya jika Allah hendak menghinakan seorang hamba dalam gerak dan diamnya, maka Allah luapkan kepuasan nafsu dirinya, Dia tutup pintu ibadahnya sehingga asyik di dalam syahwat dunia. Sedangkan ibadahnya kepada Allah menjadi sesuatu yang asing, meskipun secara lahiriah sang hamba terlihat mengerjakannya.

Baca juga: Emas Bukan Loyang

Ibadah adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan, membatasi atau bahkan menolak syahwat dan kehendak nafsu. Maka barang siapa mampu mencapai derajat membatasi liarnya hawa nafsu dan dunia, lalu diiringi dengan banyak ingat untuk beribadah kepada Allah, maka sebenernya dia telah meraih kebaikan seluruhnya.

Hamba yang dimuliakan Allah dengan ibadah adalah hamba yang selalu mendorong dirinya untuk menjalankan ketaatan tepat pada waktunya. Hal itu karena, setiap waktu ada nilai ibadah yang harus dipenuhi dengan mengikuti ketentuan rububiyah. Maka tidaklah boleh ketaatan itu terlambat dijalankan sebagaimana ketaatan yang dijalankan untuk mengganti ketaatan yang hilang.

Baca juga: Anjing dan Abu Yazid al-Busthomi: antara Najis zahir dan Najis Batin

Faedah ketaatan dan menjaga istikamah wadzifah tidak lagi dapat dipungkiri. Pernah suatu ketika Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili ditanya, “Apa yang engkau dapat petik dari ketaatanmu dan apa yang engkau dapat petik dari kemaksiatanmu?”

Maka Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili menjawab, “Dari ketaatan aku memetik ilmu yang bertambah, cahaya Ilahi yang terang dan mahabbah. Sedangkan dari kemaksiatan aku memetik kegundahan, kesedihan, takut dan harapan semu.”

 

Disarikan dari kitab al-Madrasah asy-Syadziliyah al-Haditsah wa Imamuha Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili, karya Syech Abdul Halim Mahmud.

 

Kampoeng Pitulikur, 7 Februari 2020

Nggedibal di Kampoeng Pitulikur

About Cholidien Qosiem

Nggedibal di Kampoeng Pitulikur

View all posts by Cholidien Qosiem →