Riffat Hassan (1): Masa Kecil dan Misi Mendidik Perempuan

Dia adalah perempuan Pakistan yang memelopori kajian teologi feminis Islam. Walaupun kini ia sudah tidak lagi muda dan gerakannya pun tak lagi gesit, namun, di usia senjanya—yang telah menginjak 61 tahun—ia masih jadi suluh bagi murid-muridnya di Institusi Kentucky, Universitas Louisville selama hampir dua dekade.

Satu waktu ia pernah ditanyai di tengah kesibukannya mengikuti beberapa konferensi perempuan, “Saya bekerja delapan belas jam dari dua puluh empat — ada begitu banyak pekerjaan yang mesti  dilakukan, “ungkap Riffat.

Riffat terlahir dari lingkungan keluarga yang serba ada lagi terpandang. Ayah Riffat merupakan orang  yang dihormati karena kedekatannya dengan kalangan pemerintahan. Kakeknya sendiri bahkan seorang penulis. Tapi bagaimanapun juga, di benak Riffat, ayahnya dipandang tidak lebih dari seorang yang kuno, tradisionalis dan juga patriarkis.

Baca Juga: Perempuan dalam Islam: Tubuh, Pikiran dan Jiwa

Contohnya saja di ranah pernikahan yang tak luput dari aturan keluarga yang bersifat memaksa. Terbukti, dua kakak perempuan Riffat dinikahkan saat usia-usia ranum—sekitar 16 tahun. Meski begitu, Riffat mengakui secara sadar, di luar itu ayahnya sangat cinta dan memikirkan kebaikan masa depan anak-anaknya.

Andai saja ia tidak memberontak, barangkali ia akan bernasib serupa seperti kedua saudarinya. Kenakalannya justru menyelamatkan masa muda Riffat dari aturan keluarga yang sangat membelit itu. Dan kelihatannya sikap suka memberontak ini diwariskan oleh nafas perjuangan si ibu. Adalah “Feminis” barangkali satu kata yang cocok untuk menggambarkan kepribadiannya.

Berasal dari keturunan keluarga yang “paling tua” di Lahore, Riffat merupakan anak kelima sekaligus putri ketiga dari pasangan Sayyid Feroze Hassan dan Daisy Dilara. Sayyid merupakan nasab keluarga “kelas atas” dalam Islam—meskipun Islam sendiri harusnya menyingkirkan sistem kasta. Itu artinya dari jalur ayah nasabnya masih terhubung kepada Nabi Muhammad saw.

Dengan segala keuntungan dan keistimewaan yang melingkupi dirinya, masa kecil Riffat tampaknya masih jauh dari kata bahagia, awal kehidupannya bermasalah dan dipenuhi dengan bayang-bayang. Tak disangsikan hal ini disebabkan karena adanya perbedaan dan konflik batin yang mendalam antara kedua orang tuanya. Mereka tidak hanya memiliki filosofi hidup yang secara diam-diam bertentangan, tetapi juga ketidakcocokan yang saling berpunggungan antara sikap dan karakter. Dalam banyak hal ayah Riffat begitu tradisional dan konvensional sementara ibunya sendiri tidak sesuai dengan tradisi dan konvensi.

Yang membuat ibu Riffat sangat tidak biasa dalam masyarakat tradisional dan rumah adalah penolakannya terhadap pemujaan perempuan yang rendah hati dan kepatuhan pada laki-laki. Sepertinya nuansa jahiliyah masa lalu ingin dihadirkan kembali ke dalam sebuah rumah mereka. Pasalnya bangsa Arab pra-Islam dulu telah mengubur anak perempuan hidup-hidup karena mereka beranggapan anak perempuan tidak hanya sebagai kewajiban ekonomi tetapi juga sebagai bahaya potensial bagi kehormatan para lelaki di suku itu. Terhadap kasus ini ibu Riffat—yang adalah seorang penyair berbakat—menolak secara tegas dan sangat percaya pada otonomi dan kemandirian wanita.

Pastinya sebagai seorang anak, Riffat kerap bertanya-tanya, bisa-bisanya mereka terus hidup bersama, padahal secara prinsip saling bertolak  belakang. Ternyata alasan yang membuat mereka harus bertahan hidup di bawah satu atap  adalah kenyataan; bahwa ayah dan ibunya berasal dari keluarga “tua” yang percaya bahwa perceraian adalah laknat.

Masa pendidikan Riffat dihabiskan di sekolah Anglikan di Pakistan dan Universitas Durham di Inggris. Ia merengkuh gelar doktoralnya di umur 24 tahun, di mana yang sedemikian itu sangat langka untuk karir seorang perempuan.

Sebagai seorang teolog, ia mengelaborasi teori feminisme dengan dasar teks keagamaan; Al-Quran. Gagasan yang coba dikonstruksikan Riffat adalah Al-Quran sendiri itu tidak pernah membeda-bedakan satu sama lain. Oleh karena kebanyakan perempuan muslim di dunia tidak mendapatkan pendidikan yang memadai maka produk tradisi yang dihasilkan seringnya berbingkai tafsiran atau perspektif laki-laki saja. Sehingga mendidik perempuan adalah misi utama sekaligus jalan sunyi yang tengah dilakoni Riffat.

Lebih dari sebelumnya, Riffat percaya bahwa wanita muslim harus mendidik diri mereka sendiri dengan iman. Selain itu, pentingnya pula mengembangkan apa yang oleh barat disebut sebagai “teologi feminis”, dan tentu ini tidak terbatas bagi wanita muslim saja akan tetapi juga laki lakinya. Sebab struktur sosial yang sakit— tidak adil—memungkinkan terjadinya hubungan yang tidak harmonis pula.

Baca Juga: 5 Filsuf Islam yang Harus Dibaca setiap Muslim

Titik poin yang ditekankan oleh Riffat yaitu fakta kalau rata-rata wanita muslim sekarang itu miskin, papa, buta huruf dan mereka hidup di pedesaan. Guna mencapai itu, Riffat yakin betul, pembicaraan tentang hak asasi manusia bukanlah solusi dan jawaban. Menurutnya, cara yang lebih baik adalah mengingatkan mereka tentang hal yang dasar dan paling fundamen “bahwa Tuhan itu adil dan penuh belas kasih” dan sebagai ciptaan Mahatinggi ini, ia berhak menjadi wujud yang diperlakukan dengan adil dan bermartabat.

Dari kesemuanya tadi, hematnya, Riffat ingin mencerdaskan perempuan-perempuan Islam di dunia tentang apa itu keadilan, hak-hak perempuan dalam teori teologi feminis yang berlandaskan dasar Islam–dalam arti sebenarnya–, dan juga tradisi yang kadung merugikan perempuan berkat mis-interpretasi yang sudah dilanggengkan oleh kalangan tertentu.

Alumni Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Kini, tengah menempuh jurusan Kimia kebahagiaan, di Universitas Negeri Semarang.

About Muhammad Harir

Alumni Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Kini, tengah menempuh jurusan Kimia kebahagiaan, di Universitas Negeri Semarang.

View all posts by Muhammad Harir →