Terusan Suez: Dari Ambisi hingga Perang

Dalam perjalanan ke kota Ismailiyah, rombongan kami menemukan sebuah objek sejarah yang penting. Kami menemukan rumah konseptor pembangunan Terusan Suez.

Foto tersebut diambil di depan rumah dan kantor Ferdinand de Lesseps, maestro pembangunan terusan Suez. Semenjak ekspansi Perancis ke Afrika Utara, Kaisar Napoleon Bonaparte berniat membangun kanal untuk kapal-kapal yang akan berlayar ke laut lepas. Naiknya Said Pasha–anak Muhammad Ali Pasha–pada tahun 1854 sebagai penguasa di Mesir, menjadikan impian kanal menemukan nasib baiknya. Mereka berdua adalah sahabat karib di Perancis. Said Pasha menunjuknya mengepalai proyek terusan ini. Dan de Lesseps membuktikan dirinya berhasil.

Baca juga:  Mengenal Sab’atu Rijal (1): Tujuh Waliyullah Kota Marakesh, Maroko

Rumah de Lesseps, terhitung besar dan terawat. Bentuk bangunannya mengingatkan kami pada bentuk rumah-rumah peristirahatan Belanda di Indonesia. Jendela rumah berukuran panjang dan lebar, taman-taman di sekelilingnya, atap rumah bergenting menunjukkan kepada kami seperti sedang tidak berada di Mesir tatkala memandangnya. Sekitar 500 meter, kita bisa langsung melihat Terusan Suez, mendengar deru ombak dan memandangi kapal-kapal lewat dari Asia-Eropa.

Tidak jauh dari rumah de Lesseps, ada sebuah Distrik Nakhil. Rumah-rumah di sana dibangun juga dengan konsep Eropa. Dulu, kawasan ini adalah tempat pegawai Eropa yang bekerja di perusahaan Terusan Suez. Perusahaan ini sahamnya dulu dikuasai Perancis dan Inggris sebelum dinasionalisasi.

Diceritakan, Khediv Ismail, keponakan Said Pasha yang memerintah Mesir setelahnya pada 1867, telah menyebarkan undangan ke Eropa berjumlah sekitar 6 ribu orang. Sebanyak 500 juru masak didatangkan dari Genova dan Marseille. Tamu-tamu akan menghadiri undangan itu, namun pembangunan kanal belum selesai. De Lesseps berlomba dengan waktu. Apalagi di terusan yang akan dilayari kapal-kapal dari Eropa, didapati gundukan tinggi yang menghalangi kapal untuk melintas.

“Ledakkan saja!” perintah de Lesseps.

“Itu mustahil.” jawab para insinyur.

“Kita coba saja!” kata de Lesseps, “Kita tidak punya pilihan lain.”

Tidak tercantum sebelumnya anggaran untuk melaksanakan perintahnya.

Akhirnya, perintah itu dilaksanakan dan berhasil. Ganjalan itu hancur, air meluap muntah ke daratan padang pasir. Terusan Suez dibuka pada 19 November 1869 (versi lain mengatakan pembukaan dilakukan pada tanggal 16 atau 17 November).

Ada yang bilang, orang-orang Mesir diperintahkan untuk berbaris di sepanjang tepian Terusan Suez guna menyambut rombongan tamu-tamu dari Eropa. Rau Eugenie, istri Napoleon III bahkan mengatakan, ia tidak pernah melihat pesta semegah ini dalam hidupnya. Terusan Suez memanjang sekitar 193 kilometer, melewati tiga kota utama; Port Said (Laut Tengah), Ismailiyah dan Suez (Laut Merah).

Baca juga: Café Mesir: Antara Suasana dan Sejarah

Sebelum Terusan Suez dibangun, transportasi dilakukan dengan mengangkut barang-barang antar pelabuhan Port Said dan Suez dengan transportasi darat.

Ketika masuk ke Ismailiyah lewat dalam (bukan lewat jembatan), akan kita dapati patung monumen untuk mengenang rakyat Mesir yang menggali Terusan Suez. Monumen itu menggambarkan seorang petani yang tegap memegang cangkul.

Konon, setelah penjelajah Vasco Da Gama menemukan Tanjung Harapan di Afrika Selatan, kapal-kapal yang datang tidak lagi kembali ke Mesir, tapi memilih berlayar melintasi sepanjang pinggiran Afrika. Setelah Kerajaan Inggris Raya berhasil menjadikan India sebagai salah satu negara jajahannya, jalur pelayaran Tanjung Harapan dimonopoli oleh Inggris. Hal ini membuat panas Perancis.

Perancis perlu melakukan sesuatu untuk mengembalikan kejayaan dan kehebatannya. Akhirnya disiasatilah untuk membangun Terusan Suez. Namun semua usaha untuk mewujudkannya berujung gagal, disebabkan waktu itu ada keyakinan yang pada akhirnya terbukti salah bahwa permukaan air Laut Merah lebih tinggi ketimbang permukaan air Laut Tengah.

Napoleon pernah memberikan tugas kepada salah satu insinyurnya untuk mempelajari kemungkinan membuat Terusan di tanah Mesir. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim risetnya terbukti salah. Kala itu, dilaporkan tidak memungkinkan melaksanakan misi itu, karena ketinggian permukaan air Laut Merah dan Laut Tengah tidak sama.

Baca juga: Idul Adha: Duel Keimanan dan Penglihatan

Baru ketika Mesir dipegang oleh Muhammad Said Pasha, perencanaan pembangunan ini menemukan titik nyata. Proyek pembangunan ini membuat Inggris ketakutkan karena kepentingannya di kawasan pelayaran Afrika terancam. Terusan ini dibangun selama 10 tahun (1859-1869)

Presiden Gamal Abdul Naser pada 26 Juli 1956 memutuskan untuk menasionalisasi Terusan Suez. Keputusan ini menyulut serangan dari Amerika, Perancis dan Inggris terhadap wilayah Mesir. Dalam perang Enam Hari pada pada 1967, Israel berhasil menguasai Terusan Suez. Dan dalam perang Yom Kippur pada tahun 1973, selanjutnya tentara Mesir berhasil merebut kembali Suez.

Dalam sejarahnya, perang ini menjadi simbol keberhasilan Terusan Suez dan sepenuhnya kembali ke tangan Mesir. Pada tahun 1975, Terusan Suez akhirnya dibuka untuk umum setelah ditutup sementara pada masa perang.

Terusan Suez, Ismailiyah

 

Cairo, 2 Maret 2012

Pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa, Konsentrasi As-Sohafiy (Kewartawanan), Universitas Al Azhar, Mesir. Sekarang bekerja sebagai Guru dan penerjemah buku-buku berbahasa Arab.

About Abdul Majid

Pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa, Konsentrasi As-Sohafiy (Kewartawanan), Universitas Al Azhar, Mesir. Sekarang bekerja sebagai Guru dan penerjemah buku-buku berbahasa Arab.

View all posts by Abdul Majid →