Ziarah ke Makam Imam ‘Abdurrahman al-Auza’i di Beirut, Lebanon

Perjalanan ini akhirnya usai juga. Menyusuri jalanan kota Beirut yang dipenuhi gedung-gedung apartemen menjulang tinggi. Melewati sederet kompleks pertokoan di kanan dan kiri jalan serta ramainya kendaraan yang lalu lalang silih berganti.

Tak terasa, ternyata sudah satu jam kaki ini melangkah. Kebersamaan dengan kawan-kawan membuat perjalanan jadi menyenangkan. Capek dan letih terbayarkan saat kami sampai di tempat tujuan, yaitu makam Imam Auza’i.

Tentang Imam al-Auza’i, nama lengkapnya Abu ‘Amr Abdurrahman bin Umar bin Muhammad Al-Auza’i. Ia lahir di Ba’labek pada tahun 88 H, sebuah kota di bagian timur laut Lebanon. Ia juga hidup sezaman dengan pendiri madzhab Hanafi, Imam Abu Hanifah (lahir tahun 80 H) dan lebih dahulu dibandingkan Imam Syafi’i (lahir tahun 150 H).

Imam Auza’i termasuk salah satu ulama besar dari negeri Syam yang telah mencapai derajat Imam Mujtahid Muthlaq. Sehingga, beliau memiliki madzhab sendiri yang disebut dengan Madzhab Auza’i, sama halnya dengan empat madzhab lainnya.

Dulu, selama kurang lebih dua ratus tahun Madzhab Auza’i banyak diikuti dan diamalkan oleh penduduk negeri Syam (Suriah, Lebanon, Jordania dan Palestina). Kemudian, sedikit demi sedikit penganutnya berkurang hingga akhirnya tak tersisa sama sekali. Salah satu faktor penyebabnya karena tidak adanya kodifikasi madzhab beliau oleh murid-muridnya. Alhasil, tidak gampang menemukan kembali literatur klasik yang membahas tentang Madzhab Auza’i.

Kaitanya dengan ini, menunjukkan betapa pentingnya penulisan sebuah karya tulis. Walaupun penulisnya telah meninggal ratusan tahun sebelumnya, kumpulan tulisan akan tetap lestari dan bermanfaat bagi generasi sesudahnya. Tentu disayangkan, apabila pemikiran cemerlang seorang ulama besar laiknya Imam Auza’i tidak bisa dinikmati lagi oleh generasi sekarang.

Sebagaimana Ulama Mujtahid lainnya, Imam Auza’i juga berakidah Tanzih, sebuah keyakinan yang diajarkan oleh Rasulullah dan para Sahabat. Yakni, mensucikan Allah Swt dari keserupaan makhluk-Nya baik dari satu segi maupun semua segi. Dia tidak di bumi, tidak di langit dan tidak pula diatas ‘arsy. Ada tanpa tempat, sebelum menciptakan tempat dan setelah menciptakan tempat serta tetap ada tanpa tempat. Sebagaimana dinukil oleh Imam Murtadha az-Zabidi dalam kitabnya Ithafus-Sadah al-Muttaqin, syarah dari kitab Ihya’ Ulumiddin, hal ini merupakan ijma ulama. Di mana tidak ada perselisihan sama sekali di antara mereka.

Para Imam Mujtahid semuanya bersepakat perihal masalah ushul (pokok dan pondasi agama), baik yang menyangkut akidah maupun tauhid. Sedangkan, perbedaan di antara mereka hanya terletak pada masalah furu’ (cabang agama) yang menyangkut hukum-hukum agama. Sehingga, muncul beragam madzhab seperti Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Auza’i dan lainnya.

Misalnya, Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa basmalah termasuk ayat dari surat al-Fatihah. Sehingga, orang yang tidak membacanya di dalam shalat menjadikan batal shalatnya. Berbeda lagi dengan Madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa shalatnya tidak batal karena basmalah bukan bagian ayat dari al-Fatihah.

Berkenaan masalah aurat bagi laki-laki. Menurut Madzhab Maliki batasan auratnya adalah qubul dan dubur. Sehingga, paha bukan termasuk aurat yang harus ditutupi. Sedangkan, menurut Madzhab Syafi’i, paha termasuk bagian aurat laki-laki yang harus ditutupi karena batasan aurat menurut Syafi’iyyah adalah antara pusar dan lutut. Di luar itu, dalam masalah akidah, semuanya sepakat/satu suara bahwa Allah Swt ada tanpa tempat dan arah.
***

Saat memasuki gerbang kompleks makam, suasananya terasa berbeda. Hening dan sunyi. Pemandangan di dalam kompleks makam yang terdiri dari masjid, kantor pengurus dan makam terlihat kontras dengan pemandangan rumah-rumah di sekitarnya ataupun bangunan-bangunan bertingkat selama perjalanan. Sebuah menara adzan berwarna putih berdiri di samping masjid. Bentuknya runcing mirip dengan menara masjid biru (blue mosque) di Istanbul, Turki. Dinding bangunannya didominasi oleh warna sawo matang dengan corak batuan penuh guratan. Seolah-olah membawaku ke zaman seratus atau dua ratus tahun silam.

Foto menara

Kompleks Makam Imam Auza’i terletak di pinggir laut. Hanya berselang dua puluhan meter dari bibir pantai. Begitu sampai tujuan sebagian kawan langsung berziarah ke makam yang bersebelahan dengan Masjid. Dan ketika aku duduk hendak melepaskan ikat tali sepatu, salah satu teman berseloroh kepadaku.

Fa, kita shalat sunnah dulu aja, nanti baru ziarah.
Oh, Iya, cak.” Jawabku,

Ajakan kawanku tersebut mengingatkanku tentang sebuah hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa bumi yang kita jadikan tempat sujud akan menjadi saksi bagi kita pada hari Kiamat. Oleh karena itu, saat akan melakukan shalat sunnah rawatib (qabliyyah ataupun ba’diyyah), kita dianjurkan untuk berpindah atau bergeser dari tempat kita mengerjakan shalat fardlu. Begitu pun, saat berkunjung ke suatu daerah, kita dianjurkan untuk melakukan shalat sunnah dua raka’at di masjid daerah tersebut. Kami berdua pun berwudlu dan menunaikan shalat sunnah.

Suasana di masjid begitu tenang dan tenteram, dengan paduan cahaya yang redup nan temaram. Sejenak melupakan hiruk-pikuk kota Beirut. Setelah itu, kami masuk ke makam Imam Auza’i. Membaca ayat-ayat suci Al-Quran dan beberapa kalimat thayyibah seperti takbir, tasbih, hamdalah, tahlil, hauqalah dan istighfar. Lalu, berdoa kepada Allah Swt dengan wasilah Imam Auza’i.

Disebutkan bahwa Makam Imam Auza’i termasuk salah satu diantara tiga makam auliya’ yang mustajab untuk berdoa di Beirut. Semoga dengan wasilah Imam Auza’i, hajat kita dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Foto penulis bersama kawan-kawannya

 

Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Guyangan, Trangkil, Pati. Mahasiswa Global University, Beirut, Lebanon.

About Muhammad Sirril Wafa

Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Guyangan, Trangkil, Pati. Mahasiswa Global University, Beirut, Lebanon.

View all posts by Muhammad Sirril Wafa →