Gus Dur dan Tiga Pendekar Chicago

Suarr.id–Di tengah situasi keberagamaan yang serba emosional dan penuh sentimen saat ini, banyak kalangan merindukan Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid. Kerinduan terhadap Gus Dur bukan tanpa alasan, juga bukan sebuah kultus ketokohan yang buta dengan unsur-unsur manusiawi pada dirinya. Gus Dur adalah tokoh yang berani menyampaikan pandangannya tentang Islam yang kosmopolitan, ia juga berani menunjukkan keberpihakannya pada keberagaman. Hal ini tentu saja menjadi daya jual ketokohan Gus Dur yang hingga kini belum ada yang mampu mengunggulinya. Gus Dur menganggap bahwa sebagai komunitas yang beragam, Indonesia harus mendahulukan sisi universalitas dalam beragama. Hanya dengan cara itulah Indonesia akan harmonis dan Islam tetap lestari.

Gus Dur dinilai sebagai tokoh yang menyebarluaskan ajaran Islam kosmopolitan. Gagasan ini tentu saja poin penting dari cara pandang Gus Dur pada agama, yang pada fase berikutnya menempatkan Gus Dur sebagai tokoh pemersatu. Islam kosmopolitan yaitu pandangan yang menempatkan Islam sebagai ideologi yang menyatakan bahwa semua suku bangsa manusia merupakan satu komunitas tunggal yang memiliki moralitas yang sama. Islam dalam pandangan Gus Dur adalah agama yang mampu bersikap moderat pada agama yang lain. Komunitas Muslim di Indonesia dengan akar sejarah yang panjang adalah aset perdamaian, dalam pandangan Gus Dur, alasan sejarahlah yang seharusnya membuat kaum Muslim mengedepankan moralitasnya dalam melihat fenomena keagamaan.

Pandangan sebagaimana tersebut membuat Gus Dur menempatkan Islam pada posisi yang sangat inklusif. Inklusifitas itu terletak pada segi ide dan perspektif, yang saat ini sangat jarang dijumpai pada panggung kehidupan kebangsaan Indonesia. Inklusifitas dan kosmopolitanisme Islam yang dibawa oleh Gus Dur bukan saja menuai banyak pujian, seiring dengannya banyak kelompok yang memandang pandangan Gus Dur berbahaya. Kelompok yang memandang ide Gus Dur tentang Islam ini berbahaya adalah orang-orang konservatif yang menginginkan Islam diposisikan sebagai agama yang murni, mereka bergerak untuk usaha pemurnian Islam yang dinilai telah mengalami banyak sekali penyimpangan akibat percampuran dengan budaya. Mereka juga menilai bahwa Gus Dur menjadi tokoh kunci dalam peneguhan sekulerisme di Indonesia yang berusaha menjauhkan agama dari soal-soal kenegaraan.

Kritik terhadap Gus Dur berjalan seiring dengan pembelaan terhadapnya. Gus Dur selama ini dikenal sebagai tokoh pembela kaum minoritas, oleh sebab itu, suara pembelaaan terhadapnya bukan hanya datang dari kalangan cendekiawan Muslim, tetapi pembelaan itu juga datang dari kelompok yang diperjuangkan oleh Gus Dur, misalnya masyarakat Tionghoa. Bagi masyarakat Tionghoa, Gus Dur adalah tokoh yang berhasil mewujudkan kembali cita-cita yang telah padam, ketika kebudayaan Tionghoa dianggap sebagai terlarang pada masa Orde Baru, Gus Dur secara heroik memulihkan kembali kebudayaan itu dengan alasan kemanusiaan. Dari situ kemudian, simpati kepada cara Gus Dur memimpin negara dan beragama semakin memuncak. Pembelaan terhadap Gus Dur dari kaum yang menginginkan pemurnian Islam kebanyakan dilandasi oleh ide kemanusiaan.

Gus Dur berani tampil ke panggung politik karena mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Selain itu, alasan aksesibilitas juga menjadi pertimbangan Gus Dur dalam menduduki posisi politik tertentu. Pada masa Orde Baru, Gus Dur adalah tokoh Islam yang independen. Ia tidak segan berhadapan dengan negara dalam urusan keadilan. Bagi Gus Dur, Orde Baru tidak beda dengan negara pada umumnya yang memerlukan kritik dan pengawasan langsung dari kalangan masyarakat, terutama cendekiawan. Tentang Cendekiawan, Gus Dur juga tidak jarang, bahkan relatif sering berhadapan dengan sesama pemikir Islam.

Di tahun 1990-an, saat Orde Baru memasuki fase akhir kekuasannya, Gus Dur tampil semakin progresif dengan mengambil jalannya sendiri. Saat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia atau ICMI berdiri, Gus Dur menangkap pesan yang tidak banyak dipahami oleh cendekiawan Muslim lainnya yang secara spontan mengikuti arus ICMI. Gus Dur menganggap bahwa ICMI adalah bagian dari skenario panjang Orde Baru dalam membungkam progresifitas Islam dan keterlibatannya dalam mewujudkan demokrasi.

Sebagai seorang cendekiawan Muslim yang kritis, Gus Dur tidak diam dalam melihat fenomena ICMI. Dengan berpedoman pada tradisi intelektual, Gus Dur mengkritik ICMI dengan cara yang penuh humor bukan dengan pengerahan massa. Meskipun begitu, Gus Dur dalam kesehariannya tetap memandang tokoh ICMI sebagai sahabatnya. Dari sekian tokoh yang memiliki pengaruh adalah Nucholish Madjid, Ahmad Syafii Maarif dan Amien Rais. Ketiganya adalah tokoh Muhammadiyah, yang secara tradisi berbeda dengan Gus Dur. Ketiganya dalam sebutan Gus Dur adalah Tiga Pendekar Chicago.

Tiga Pendekar Chicago adalah sebuah artikel yang ditulis oleh Gus Dur di tahun 1992 dalam Majalah Tempo. Sebuah artikel kolom yang berisi tentang kisah tiga tokoh Muhammadiyah dengan pandangannya masing-masing terhadap Islam maupun politik. Pada artikel ini Gus Dur nampak genit dan cenderung menggoda Amie Rais yang dikenal sebagai pemikir politik Islam dan Syafii Maarif yang dikenal sebagai pemikir Islam untuk ikut terlibat dalam masalah yang dihadapi oleh Nurcholish Madjid. Ketiga Doktor jebolan Universitas Chicago itu nampak saling acuh dan tidak memiliki kohesi satu sama lain dalam memandang fenomena keagamaan sekaligus politik.

Nurholish Madjid yang pada waktu itu sedang tenar-tenarnya, karena berani mengemukakan gagasannya tentang Islam kultural mendapat banyak kritikan dari luar, salah satunya adalah Ridwan Saidi yang menilai pandangan Nurcholish ini berbahaya dan dapat berdampak pada pembusukkan ajaran Islam. Ridwan, secara konservatif mengecam perspektif-perspektif yang ditawarkan oleh Nurcholish baik melalui media maupun orang per orang. Kritik tidak hanya datang dari Ridwan Saidi, cendekiawan Muslim lain seperti Muhammad Tahir Azhary menilai pandangan Nucholish sepulangnya dari Barat sangat mengecewakan umat Islam. Nurcholish dianggap tidak berhasil memahami bagaimana sesungguhnya hubungan antara agama Islam dan kehidupan kenegaraan dan masyarakat.

Di tengah arus penolakan terhadap Nucholish Madjid, Gus Dur muncul sebagai caretaker yang bertugas memprovokasi pemikir Islam lain untuk ikut terlibat perdebatan yang sedang berlangsung dengan cara mempertanyakan keberpihakan dua Pendekar Chicago lainnya terhadap kasus ini. Secara genit Gus Dur menangkap, diamnya Amien dan Syafii Maarif dikarenakan pertentangan ketiganya yang begitu kuat dalam memandang Islam maupun politik. Amien dipandang Gus Dur sebagai cendekiawan cum politisi yang memiliki pandangan bahwa terwujudnya kehidupan yang bersumber dari keislaman hanya dapat dilakukan melalui jalan partai politik. Bagi Amien, “Islam Yes, Partai Islam Yes”.

Syafii Maarif di mata Gus Dur adalah pemikir Islam tulen yang menganggap upaya pencapaian tujuan-tujuan umat Islam tidak melulu dapat dilakukan dengan Partai Politik, meskipun politik Islam dibutuhkan untuk menjaga eksistensi dan marwah Islam sebagai agama yang kosmopolit. Baginya, “Islam Yes, Politik Islam Yes, Partai Islam No”. Nurcholish lebih moderat dalam memandang hal ini, Islam bagi Nurcholish adalah ide sekaligus instrumen dalam mewujudkan tujuan-tujuannya yang dapat dilakukan secara kultural. Islam tidak pernah bertentangan dengan budaya, pandangan yang konservatif terhadap Islam membuat agama ini membeku secara tradisi dan terhambat berkembang. Ia juga menentang ide politisasi Islam maupun pencapaian tujuan melalui Partai Politik, baginya usaha menarik Islam ke ranah politik hanya akan menurunkan derajat agama Islam dan mematikan tradisi intelektual Islam yang dinamis dan membumi. Baginya, “Islam Yes, Partai Islam No”.

Meskipun sama-sama menempuh pendidikan di Barat, ketiganya tokoh itu bagi Gus Dur adalah elemen yang tidak pernah bisa bersatu, tetapi sebagai elemen daya tarik ketiganya begitu kuat bagi massa Islam. Selain mampu menganalisa fenomena secara baik, tetapi posisi non kohesi di antara ketiganya memungkinkan terciptanya situasi sulit yang membuat usaha mencapai tujuan umat Islam terhambat. Pandangan ketiganya saling bersilang sengkarut dan tidak pernah mencapai titik temu, meskipun pandangan yang dikembangkan oleh masing-masing memiliki basis pengikutnya masing-masing pula yang setiap saat dapat melakukan pembelaan apabila ketiganya dikritik oleh berbagai pihak.

Secara tradisi, ide Gus Dur tentang Islam kosmopolitan lebih dekat dengan ide Cak Nur tentang Islam kultural, dan sedikit persis dengan ide Islam humanis ala Syafii Maarif. Dalam melihat persoalan kebangsaan dan keberagaman ketiganya bertemu pada satu titik bahwa Islam harus menjadi agama yang inklusif dalam memperjuangkan hak-hak minoritas dan menjaga harmonisasi di masyarakat. Ketiganya sama-sama menginginkan Islam yang membudaya tanpa berpaling dari tradisi lokal yang selama ini berkembang di masyarakat. Islam datang dan diakomodasi oleh budaya lokal, oleh sebab itu Islam juga perlu menyerap nilai-nilai positif di ranah lokal untuk menjadi agama yang mampu memperjuangkan gak-hak sipil. Pencapaian hak-hak sipil melalui berislam dapat dilakukan dengan berbagai cara, intelektualisme adalah salah satu jalan yang paling mungkin ditempuh, sedangkan politik adalah opsi terakhir yang dapat diambil untuk menjaga eksistensi Islam di negara demokrasi.

Gus Dur juga memiliki titik temu dengan Amien Rais dalam memandang politik Islam. Bagi Gus Dur, dalam usaha memperjuangkan hak-hak warga negara, Islam kultural ala Nurcholish Madjid saja tidak cukup, atau intelektualisme ala Syafii Maarif akan membutuhkan waktu lama dalam mewujudkan hal itu, supaya lebih progresif maka Islam harus tampil di panggung politik. Dalam perkembangan berikutnya ide inilah yang mempertemukan Gus Dur dan Amien Rais dalam gerbong yang sama dan mengantarkan Gus Dur menjadi Presiden RI pasca Habibie. Meskipun Amien pula yang kemudian menginisasi penjatuhan Gus Dur melalui parlemen pada fase berikutnya.

Diskursus hubungan Gus Dur dan Tiga Pendekar Chicago tidak hanya sampai di situ. Tradisi berislam yang dikembangkan oleh keempat intelektual ini hingga hari ini terus berlanjut. Dalam kehidupan intelektual maupun politik pemikiran keempatnya tergolong selalu aktual dan relevan dalam menjawab masalah-masalah keislaman maupun kebangsaan. Gus Dur dengan kegenitannya dan Tiga Pendekar Chicago dengan jalannya masing berhasil membuat suasana beragama di Indonesia menjadi semakin hidup. Mereka bukan hanya pemula dalam usaha mewujudkan reformasi dalam hal politik, kultural, dan keagamaan, melainkan keempat tokoh ini bagaikan pelangi dalam kehidupan Islam dan kebangsaan di Indonesia yang harus dirawat pemikiran dan tradisinya dalam usaha mewujudkan cita-cita agama maupun negara.