Permulaan Munculnya Ilmu Shorof

Suarr.id–Sebenarnya, penyebab pertama penetapan konstruksi bahasa Arab; penelitian, istinbath kaidah-kaidah, dan penetapan asal bangunan kata, adalah karena adanya lahn (kekeliruan) dan kesalahan dalam pengucapan. Ini disebabkan naluri Arab yang lemah serta buah dari persinggungan antara Arab asli dengan ‘ajam (non Arab). Kemudian juga dikarenakan pengaruh ekspansi Islam ke seluruh penjuru dunia yang beraneka bangsa dan bahasa. Lalu masuklah bahasa ‘ajam (non Arab) bercampur dengan bahasa Arab.

Kelemahan serta kekeliruan ini tidak hanya terdapat pada uslub-uslub dan tarkib-tarkib atau tata bahasa, bahkan sampai pada kekeliruan mufradat yang darinyalah suatu kalimat terbentuk. Maka hal ini menimbulkan kekhawatiran pada para ulama akan semakin bertambah panjangnya deretan kekeliruan dalam masalah ini. sebelum akhirnya al-Quran dan Hadis yang menjadi sumber utama agama Islam akan mengalami distorsi disebabkan percampuran bahasa ini.

Maka dari itu para ulama meletakkan dasar-dasar dan kaidah-kaidah bahasa guna mencegah kekhawatiran itu terjadi. Lahirlah ulama-ulama dari generesi ke generasi yang melakukan pembaruan ini dimulai pada abad ke 2 H oleh seorang begawan ilmu gramatika bahasa Arab, Imam Sibawaih (w. 180 H) dengan karyanya yang berjudul “Al-Kitab”.

Baca juga: Imam Sibawaih: Dari Kekalahan Debat sampai Kitab Nahwunya yang tak sempat Dirampungkan

Dalam karyanya tersebut Imam Sibawaih mendedah pembahasan i’rab (sebelum berubah penyebutan menjadi ilmu nahwu) dan sharf sekaligus. Dahulu nahwu diartikan sebagai ilmu yang digunakan untuk mengetahui apakah kata itu mufrad atau murakkab. Ibnu Jinni (w. 392 H) menambahkan bahwa nahwu adalah mengarahkan pokok kalam Arab dalam hal perubahannya, baik segi i’rab dan selainnya, seperti tatsniyah, jama’, bentuk tasghir, taksir, idhafah, nasab, tarkib dan lain sebagainya.

Kemudian di tangan Muslim bin Mu’adz al-Harra’(w. 187 H), ilmu sharf menjadi suatu pembahasan tersendiri dan terpisah dengan nahwu. Lima dasawarsa kemudian, al-Mazini (w. 249 H) menyusun kitab khusus ilmu sharf yang ia namai Al-Tashrif. Lalu kitab tersebut disyarahi oleh Ibnu Jinni dalam kitabnya Al-Mushannaf. Selanjutnya sekitar empat abad kemudian, Ibnu al-Hajib(w. 646) menyusun kitab Al-Syafiah yang menjadi kitab terpenting di antara kitab-kitab sharf lainnya. Lalu disusul Ibnu Ushfur al-Isybili (w. 669) dengan karyanya Al-Mumta’ fi al-Tashrif dan Ibnu Malik penyusun Alfiyah (w. 672 H).

Makna kata Sharf

Secara bahasa sharf berarti perubahan. seperti pada al-Baqarah: 164, “dan pengisaran (perubahan) angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Kata sharf juga berarti pengulangan yang berkali-kali, seperti dalam al-An’am: 46, “dan perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).”

Sedangkan secara istilah, sharf adalah ilmu untuk mengetahui bangunan kata dan ihwalnya, bukan secara i’rab ataupun bina’. Ilmu ini mencari bermacam kata dari satu akar kata. Sebelum kemudian menjadi sebuah aturan dalam susunan (tarkib).

Perubahan dalam bangunan kata ini adakalanya bertujuan secara makna, adakalanya secara lafal. Tujuan makna seperti contoh perubahan kata al-‘Ilm (العلم) menjadi ‘alim (عالم), ‘allam (علام), ma’lum (معلوم), ma’lam (معلم), a’lam (أعلم), ‘alima (علم) dan ‘allama (علم). Perubahan tersebut bertujuan untuk menunjukkan makna lain, ditambah perubahan pada fungsi makna al-‘Ilm, seperti perubahan dari mufrad ke tatsniah atau jama’.

Sedangkan secara lafal seperti i’lal wawu dan ya’ menjadi alif seperti fiil (kata kerja) qaala (قال), baa’a (باع), da’aa (دعا), dan ramaa (رمى). Sebelum mengalami i’lal, asli dari kesemuanya adalah qawala (قول), baya’a (بيع), da’awa (دعو), dan ramaya (رمي). Kemudian ada juga perubahan dari ta’ diganti dengan tha’ seperti ishthabara (إصطبر) yang memiliki asli ishtabara (أصتبر). Ada pula peleburan dua hurul dal menjadi satu seperi syadda (شد) yang sebelum di-idgham-kan adalah syadada (شدد). Sekali lagi, perubahan kata yang barusan disebutkan adalah perubahan lafal, bukan makna.

Walakahir, para ulama dahulu telah mengetahui bahwa dua ilmu ini saling terpaut satu sama lain, sehingga mereka menggabungkan penjelasan keduanya dalam satu kitab. Namun, di antara keduanya, sebagian ulama menyarankan untuk belajar sharf terlebih dahulu sebelum nahwu.